SEMINAR SPIRITUALITAS SANTO FRANSISKUS : Pertobatan Hati Menuju Pembaharuan Dunia

Seminar Spiritualitas Santo Fransiskus diadakan di Gedung Karya Pastoral pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka Yubileum Santo Fransiskus Assisi 2026, untuk memperingati 800 tahun wafatnya Bapak Keluarga Besar Fransiskan itu. Seminar dilaksanakan oleh paroki dengan panitia pelaksana Ordo Fransiskan Sekuler (OFS).

Kegiatan ini selain dihadiri anggota OFS, juga dihadiri perwakilan lingkungan dan OMK, total sekitar 200 orang. Seminar dimulai dari pukul 19.00 sampai 22.00 WIB. Umat perwakilan lingkungan dan kaum muda diikutsertakan dalam seminar ini supaya semakin memahami spiritualitas Santo Fransiskus, karena Paroki Bekasi Utara juga merupakan paroki yang menghidupi semangat fransiskan, dimana menggunakan nama Santa Clara pendiri Ordo Kedua Fransiskan sebagai nama pelindung.

Adapun pembicara yang mengisi seminar ini, antara lain Pastor Ramses Nainggolan OFM Capusin yang merupakan pastor rekan di Paroki Bekasi Utara dan Ernest Mariyanto yang merupakan penggerak dan pengurus Dewan Nasional OFS Indonesia.

Seminar ini diawali dengan menonton film Santo Fransiskus Asisi. Kemudian dilanjutkan dengan beberapa materi yang dipresentasikan kedua pembicara, yaitu Mengenal Spiritualitas St Fransiskus dan Mengenal Keluarga Besar Pengikut St Fransiskus. Acara ditutup dengan diskusi serta tanya jawab.  

Ketika Dunia Membutuhkan Pembaruan

Di tengah dunia yang terus bergulat dengan kesenjangan sosial, kerusakan lingkungan, dan krisis makna hidup, gagasan tentang pembaruan sering kali diarahkan pada perubahan sistem, kebijakan, atau struktur besar. 

Mengambil inspirasi dari kehidupan dan spiritualitas Santo Fransiskus dari Assisi, seminar ini menegaskan sebuah keyakinan lama yang tetap relevan hingga kini. Dunia tidak akan pernah benar-benar diperbarui hanya lewat perubahan struktur luar, jika hati manusia di dalamnya tidak ikut berubah. Sehingga ketika dunia membutuhkan pembaruan, hati manusialah yang harus tergerak untuk berubah terlebih dahulu.

Siapakah Santo Fransiskus itu?

Santo Fransiskus dari Assisi hidup pada tahun 1181–1226 dan dikenal karena kesederhanaan, cinta kasih pada alam, dan keberpihakannya pada kaum miskin. Ia lahir dalam keluarga pedagang kain yang kaya, namun ia memilih meninggalkan kemewahan setelah mengalami pertobatan mendalam.

Kehidupannya merupakan proses panjang pergulatan batin. Mulai dari pengalamannya sebagai tawanan perang, sakit yang berkepanjangan, hingga pertemuan yang mengubah hidupnya dengan seorang penderita kusta yang ia peluk dengan penuh kasih. Dari titik itulah, Fransiskus mulai melepaskan kemelekatannya pada harta dan status, dan memilih hidup dalam kemiskinan demi mengikuti jejak Kristus.

Perjalanan hidupnya menjadi bukti nyata bahwa pertobatan sejati selalu dimulai dari dalam diri, sebelum berdampak keluar pada relasi dengan sesama, dengan alam, dan dengan Tuhan.

Tentang Hati yang Bertobat sebagai Titik Awal

Seminar ini menempatkan pertobatan hati (metanoia) sebagai fondasi dari segala bentuk perubahan yang berkelanjutan. Beberapa gagasan pokok yang biasanya diangkat dalam seminar bertema ini antara lain:

1. Pertobatan sebagai Proses, Bukan Peristiwa Sesaat

Pertobatan tidak berhenti pada satu momen penyesalan, melainkan sebuah perjalanan berkelanjutan untuk terus menyelaraskan hati dan tindakan dengan nilai-nilai kasih, kejujuran, dan kerendahan hati. Seperti Fransiskus yang terus mendalami panggilannya sepanjang hidup, pertobatan sejati menuntut kesetiaan harian.

2. Kesederhanaan sebagai Bentuk Perlawanan terhadap Keserakahan

Semangat hidup miskin yang dipilih Fransiskus bukan sekadar penolakan terhadap harta, melainkan sikap kritis terhadap budaya konsumerisme dan keserakahan yang kerap menjadi akar ketimpangan sosial. Kesederhanaan hidup dipandang sebagai bentuk solidaritas nyata terhadap mereka yang berkekurangan.

3. Cinta pada Alam sebagai Buah Pertobatan

Melalui karya-karyanya seperti Kidung Saudara Matahari (Canticle of the Creatures), Fransiskus mengajarkan bahwa alam semesta adalah saudara, bukan sekadar sumber daya untuk dieksploitasi. Semangat ini menjadi relevan di tengah isu krisis iklim dan kerusakan lingkungan yang dihadapi dunia modern.

4. Perdamaian yang Dimulai dari Dalam Diri

Fransiskus dikenal sebagai pembawa damai, bahkan dalam situasi konflik besar sekalipun, seperti pertemuannya yang terkenal dengan Sultan Al-Kamil di tengah Perang Salib. Semangat ini menegaskan bahwa perdamaian dunia hanya mungkin terwujud jika terlebih dahulu ada perdamaian batin dalam diri setiap pribadi.

Relevansi di Kehidupan Masa Kini

Tema ini dianggap penting untuk terus dibahas di era modern, karena tantangan zaman sekarang mulai dari individualisme, krisis ekologis, hingga kesenjangan sosial pada akarnya sering kali berasal dari hati manusia yang belum sepenuhnya bertobat: hati yang masih dikuasai keserakahan, ketakutan, atau ketidakpedulian terhadap sesama. Maka pertobatan manusia merupakan dasar dan modal penting untuk mengatasi krisis lingkungan hidup dan ketidakadilan di dalam masyarakat.

Pesan Utama dari Seminar Ini

Pesan utama dari seminar ini sejatinya sederhana namun mendalam, yaitu pembaruan dunia bukanlah proyek besar yang jauh dari jangkauan pribadi, melainkan dimulai dari langkah kecil pertobatan hati setiap individu. 

Sebagaimana Fransiskus mengubah dunianya dengan memulai dari perubahan dalam dirinya sendiri, setiap orang dipanggil untuk melakukan hal yang sama menjadi agen pembaruan bukan lewat kata-kata besar, tetapi lewat kesaksian hidup yang sederhana, jujur, dan penuh kasih. Seperti doa terkenal yang sering dikaitkan dengan semangat Fransiskan: “Jadikanlah aku pembawa damai.” Pembaruan dunia, pada akhirnya, memang selalu dimulai dari hati yang bersedia bertobat.

Ega Komsos

Foto : Aya dan Lego Sriyono

0 0 votes
Beri Nilai
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar