Seminar dan Workshop Merangkai Bunga: “Dekorasi Gereja yang Liturgis, Indah Bersahaja”

Merangkai bunga di altar bukan sekadar menaruh tanaman lalu selesai. Lebih dari itu, ada wujud perhatian dan cinta yang diberikan untuk Tuhan. Semangat melayani itulah yang membawa 38 peserta hadir dalam Seminar dan Workshop Merangkai Bunga pada Sabtu (26/9/2026) di Aula GKP depan ruang kesehatan Gereja Santa Clara, Bekasi Utara.

Mengusung tema “Dekorasi Gereja yang Liturgis, Indah Bersahaja”, kegiatan ini diselenggarakan oleh Tim Dekor Gereja Santa Clara berkolaborasi dengan Wanita Paroki Santa Clara.

“Melalui workshop dan seminar ini, kami berharap dapat menggerakkan wilayah-wilayah terutama saat ada Misa lingkungan atau kegiatan serupa. Acara ini juga menjadi wadah regenerasi, khususnya bagi Tim Dekor Gereja Santa Clara,” ujar Alicia Meilisko, Ketua Panitia Pelaksana.

Spiritualitas di Balik Keheningan Pelayanan

Panitia menghadirkan narasumber Lucia Raras Purwaningrum, M.Fil., sosok yang berpengalaman di dunia floral sekaligus mantan Ketua Ikatan Penata Bunga Indonesia (IPBI). Ibu Raras membawakan materi bertajuk “Estetika, Spiritualitas Liturgis, dan Ekologi Integral Laudato Si’ dalam Dekorasi Bunga Liturgi Katolik”.

Melalui pemaparannya, peserta diajak mengalami kehadiran Allah lewat keindahan liturgi dan belajar beriman melalui karya. Rangkaian bunga di gereja disajikan bukan untuk menarik perhatian atau mengalihkan fokus umat dari prosesi sakramental, melainkan untuk menciptakan harmoni di sekitar altar yang membantu umat semakin berfokus kepada Allah.

“Merangkai bunga adalah salah satu cara kita menghaluskan budi. Bukan hanya pikiran yang bekerja, melainkan juga rasa, perasaan, dan cara kita memperlakukan bunga tersebut. Kita sedang merangkai makhluk hidup, sehingga kita harus merangkainya dengan sukacita agar bunga itu ‘tersenyum’ kepada kita. Ini adalah tugas yang dilakukan dalam kesunyian, tetapi manfaatnya dirasakan oleh seluruh umat,” ungkap Ibu Raras.

Konsep Ekologi Integral Laudato Si’

Ibu Raras juga menekankan bagaimana konsep ekologi integral dalam Ensiklik Laudato Si’ diterapkan dalam perangkaian bunga. Bunga memberikan manfaat yang berkesinambungan:

  1. Manfaat Pertama: Saat bunga tumbuh di alam dan memberi kehidupan bagi ekosistem.
  2. Manfaat Kedua: Saat dipetik dan dipajang sebagai dekorasi rumah Tuhan untuk membantu suasana doa.
  3. Manfaat Ketiga: Saat bunga mulai layu, mahkota dan daunya dapat dimanfaatkan menjadi bahan pewarna alami kain (ecoprint) atau elemen dekorasi kering.
  4. Manfaat Akhir: Sisa bahan organik yang diolah kembali menjadi kompos tanah.

Sementara itu, konsep Integral menekankan bagaimana dekorasi bunga menyatu utuh dengan makna liturgi gereja, sehingga menjadi satu kesatuan dengan doa dan perayaan iman yang sedang dirayakan.

Dari Teori ke Praktik

Usai sesi pemaparan materi, para peserta dibagikan aneka bunga segar—seperti mawar, dahlia, peacock ungu dan putih, gerbera, daun ruskus—lengkap dengan vas, tali, dan pita untuk sesi praktik langsung.

Peserta diajak mencoba dua teknik dasar:

  • Hand-Tied Bouquet: Teknik merangkai bunga langsung di genggaman tangan menggunakan pola spiral sebelum diikat pada titik ikat (binding point). Sesi ini memberikan pengalaman tersendiri bagi peserta awam yang baru pertama kali merangkai bunga.
  • Vase Arrangement: Teknik merangkai bunga langsung di dalam vas. Ibu Raras mengajarkan pola dasar bentuk oval, bulat, vertikal, hingga bentuk T terbalik.

Seluruh peserta tampak antusias dan bersemangat mengikuti proses belajar dari awal hingga akhir, siap membawa keterampilan dan pemahaman baru ini untuk pelayanan di lingkungan dan paroki. Semoga semangat “Indah Bersahaja” ini terus menginspirasi para pelayan liturgi, sehingga setiap rangkaian bunga yang dihadirkan dapat memancarkan keindahan Allah serta membawa umat semakin khusyuk berdoa.

0 0 votes
Beri Nilai
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar