OMK dan SKK Santa Clara Gelar Talkshow Bahas Isu Kaum Muda

Bekasi,SuaraClara -OMK (Orang Muda Katolik) Gereja Santa Klara, Paroki Bekasi Utara kembali mengadakan EKM (Ekaristi Kaum Muda) pada Sabtu, 15 Februari 2025.

Kegiatan dimulai dengan misa EKM pada pukul 17.00 WIB yang dilanjutkan dengan talkshow Bersama SKK (Seksi Kerasulan Keluarga) dengan tema Hopeful, Joy, dan Love.

Menurut Koordinator Bidang Kerohanian Yosafat, tema EKM bulan ini terinspirasi dari Hari Valentine yang jatuh pada 14 Februari.

Ia menuturkan, tema tersebut dipilih karena setelah melakukan diskusi internal, mereka merasa cinta tanpa pengharapan dianggap kurang sempurna. Tema tersebut juga senada dengan bacaan liturgi saat itu yang menegaskan kalau manusia perlu menaruh harapannya pada Tuhan.

“Kita selalu berharap pada kekuatan kita, kita berharap pada manusia. Itu kadang lebih banyak tidak bagusnya. Apalagi, ketika kita mengharapkan hal-hal duniawi. Padahal, Tuhan ingin mengajarkan kita bahwa berharap untuk kebahagiaan itu bukan hanya masalah materi saja,” tutur umat Fidelis 1 tersebut.

Tidak hanya itu, lewat sesi talkshow ini, OMK juga ingin mengajak anak muda di Paroki Bekasi Utara untuk bisa menjalin hubungan yang selaras dengan nilai-nilai Katolik. Terlebih, di era digital saat ini, ada banyak konsep hubungan yang muncul di media sosial.

“Di sini, kami mencoba menggali isu yang sebenarnya lebih ke hubungan OMK, sehingga harapannya agar orang-orang muda ini tahu juga, meski kita boleh menjalin hubungan sebenarnya ada juga guide yang harus kita ikuti, termasuk bagaimana kita menyikapi kasus hubungan anak muda,” ujarnya.

Adapun sesi talkshow yang diadakan membahas tiga topik utama yakni Pacaran Sehat, Pacaran Beda Gereja/Agama, serta Childfree.

Arnoldus Daru Mustiko dari SKK yang memberikan materi soal Pacaran Sehat sebagai pembuka talkshow.
Dalam penjelasannya, ia menuturkan, hubungan pacaran yang sehat adalah hubungan yang saling menghargai, setia, dan jujur. Selain itu, idealnya hubungan yang sehat juga harus memiliki tujuan jelas, bukan hanya sekadar bersenang-senang.

Menurutnya, ada beberapa tanda pacaran sehat yang perlu diketahui para OMK, seperti mampu mengelola konflik dengan baik, komunikasi terbuka dan jujur, saling mendukung dan kerja sama dalam mengejar mimpi, saling memotivasi dan menginspirasi, menghargai privasi masing-masing, serta keseimbangan antara kebersamaan dengan ruang pribadi (Me Time).

Dalam kesempatan itu, ia juga memperingatkan agar anak muda tidak terburu-buru membicarakan pernikahan, jika masih dalam tahap pacaran tidak sehat.

Menurutnya, banyak hubungan yang bermasalah sejak awal, tapi jika tetap dipaksakan menuju pernikahan akan berujung tidak bahagia.

“Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa hubungan pacaran sudah cukup matang dan sehat sebelum berpikir untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius,” ujar Daru.

Kemudian, sesi Pacaran Beda Gereja/Agama diisi oleh Veronica Tuti Setiatun. Dalam penjelasannya, ia membahas soal tantangan dalam menjalani hubungan beda agama. Salah satu tantangannya adalah penerimaan dari keluarga.
Selain itu, pengorbanan dalam hubungan beda agama juga sangat besar. Sebab, tidak menutup kemungkinan harus ada keputusan besar yang dibuat, seperti berpindah agama. Kondisi ini tentu akan berdampak pada pribadi yang melakukan putusan itu, mulai dari kehilangan teman bahkan pekerjaan.

“Hubungan beda agama juga tidak jarang memberikan konsekuensi bagi orang yang menjalaninya, terutama setelah berkeluarga. Untuk itu, pentingnya mempertimbangkan beragam faktor sebelum benar-benar menjalin hubungan serius dengan pasangan yang beda agama,” ujar Tuti.

Selain itu, hal lain yang juga perlu menjadi perhatian dari para OMK adalah secara hukum di Indonesia saat ini, pernikahan beda agama tidak lagi diperbolehkan. Karenanya, pasangan juga harus mengetahui aturan yang berlaku.

Terakhir, topik yang diangkat adalah soal Childfree. Dibawakan oleh Magdalena Ariningtyas, sesi ini membahas soal topik Childfree yang sebenarnya tidak dibenarkan oleh Gereja Katolik. Sebab, tidak sesuai dengan Kodrat Perkawinan dan bertentangan dengan rencana Allah dalam perkawinan.

Menurut Magdalena keputusan Childfree yang diambil secara sadar itu berbeda dari kondisi pada pasangan yang belum atau tidak bisa memiliki anak karena sejumlah alasan. Dalam hal tersebut, pasangan itu mungkin telah berupaya untuk bisa memiliki anak, tapi karena menghadapi kondisi tertentu, mereka tidak bisa.

“Jadi, itu kondisi berbeda. Pada childfree, pasangan itu tidak mau memiliki anak, sedangkan ada kondisi lain yang membuat pasangan tidak bisa memiliki anak,” ujarnya.

Keputusan childfree ini yang ditolak oleh Gereja karena beberapa alasan.
Pertama, kelahiran anak merupakan salah satu tujuan perkawinan, yakni Bonum Prolis dan Bonum Educations. Lalu, kelahiran anak merupakan kehendak Allah, seperti yang tertulis dalam Kitab Kejadian 1:28.

Selain itu, Allah menjadikan pasangan suami istri sebagai rekan kerja-Nya dalam meneruskan kehidupan baru dari generasi ke generasi. Childfree juga tidak sesuai dengan consensus consesualis, yakni tujuan perkawinan yang prokreatif. Terakhir, melalui kelahiran anak, manusia ikut serta dalam karya penciptaan Allah.

Penulis : Mario Damar – Komsos

5 1 vote
Beri Nilai
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments