Mengapa “Good Friday”, seharusnya “Bad Friday”?

Bekasi,SuaraClara – Dalam sebuah grup WA, seorang anak muda tiba-tiba mengirimkan chat dan bertanya, “Mengapa hari ketika Yesus dibunuh disebut Good Friday atau Jumat ‘Baik’? Bukankah lebih tepat hari tersebut dinamakan Bad Friday atau Jumat ‘Buruk’ atau Jumat ‘Brutal’?”

Ketika membaca pertanyaan itu, saya pun ikut tercenung. Diam sebentar menarik nafas panjang. Pertanyaannya tentu saja membuat saya berpikir lebih dalam tentang iman saya juga.

Jika ada yang pernah menonton film “Passion of Christ”, yang menggambarkan jam-jam terakhir Yesus dengan detail yang menyakitkan, tentu kebanyakan orang juga akan menanyakan hal yang sama. Setidaknya dalam film tersebut, kita bisa melihat rasa sakit yang jelas dialami Yesus dengan cambukan di kulit-Nya oleh algojo yang kejam, kayu balok salib yang berat menimpa-Nya berkali-kali, hingga paku yang menembus telapan tangan dan kaki-Nya sampai mati tergantung di kayu salib. Ini peristiwa yang sangat kejam dan brutal. Memang, di Alkitab juga diceritakan demikian.

Apalagi kini prosesi penyaliban Yesus semakin jamak didramatisir lewat acara tablo jalan salib di gereja-gereja Katolik. Bahkan, ada yang mengatakan, “Semakin banyak umat, terutama ibu-ibu, yang menangis menontonnya, berarti tablo tersebut sudah sukses!” Sulit untuk melihat apa yang “baik” tentang hari Jumat ini. Benar-benar “Bad Friday”, bukan?

Dalam bahasa Inggris, sebenarnya, asal-usul istilah ‘Good’ diperdebatkan. Ensiklopedia Katolik, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1907, menyatakan bahwa asal usul istilah tersebut tidak jelas. Penggunaan istilah kuno “guode friday” yang paling awal diketahui ditemukan dalam The South English Legendary, sebuah teks dari sekitar tahun 1290.

Kebanyakan percaya bahwa kata “good” dalam Good Friday berasal dari kata “God” atau “God’s Friday” (Jumat Tuhan) atau “Gottes Freitag”, sementara yang lain menyatakan bahwa itu berasal dari bahasa Jerman “Gute Freitag”.

Penggunaan kata “good” ini mirip dengan istilah sapaan “good morning”. Kata “good” dalam konteks ini tidak sepenuhnya berarti “baik” dalam arti modern, tetapi lebih kepada “baik dalam arti diberkati” atau “baik dalam arti positif”.

Asal-usul kata “good” dalam sapaan ini dapat ditelusuri kembali ke abad pertengahan, ketika orang-orang menggunakan frasa seperti “good morrow” atau “good day” untuk menyapa satu sama lain. Frasa-frasa ini sebenarnya adalah singkatan dari “God give you a good morrow” atau “God give you a good day”, yang berarti “Tuhan memberkati Anda dengan hari yang baik”.

Dalam konteks ini, kata “good” lebih kepada mengungkapkan harapan bahwa orang yang disapa akan memiliki hari yang baik, diberkati, dan positif. Seiring waktu, frasa-frasa ini berkembang menjadi “good morning”, “good afternoon”, dan “good evening”, yang digunakan sebagai sapaan standar dalam berbagai situasi.

Itu juga sama seperti istilah “goodbye” yang berasal dari singkatan frasa “God be with you” atau “Semoga Tuhan menyertaimu.”

Namun, tidak semua orang menyebut hari raya Jumat ini sebagai Good Friday. Misalnya, di Gereja Yunani, hari raya ini dikenal sebagai “The Holy and Great Friday” (Jumat Suci dan Agung). Dalam bahasa Jerman, hari raya ini disebut sebagai “Sorrowful Friday” (Jumat Duka). Ada juga yang menggunakan istilah “Sacred Friday” (Jumat Suci) dan “Passion Friday” (Jumat Sengsara). Dalam bahasa Latin disebut “Dies Passionis Domini” (Hari Tuhan yang Sengsara).

Alasan lain yang sangat mungkin untuk penamaan istilah Good Friday — sebuah teori yang didukung oleh para ahli bahasa dan bukti sejarah — merujuk pada hubungan hari raya itu dengan Minggu Paskah, yang merayakan kebangkitan Kristus. Karena Yesus tidak mungkin dibangkitkan tanpa mati. Hari kematiannya, dalam arti tertentu, adalah “baik”.

Kembali pada chat WA si anak muda tadi. Dia kembali lanjut menyatakan, jika Yesus adalah Tuhan dalam wujud manusia, Dia seharusnya cukup berkuasa untuk memulihkan kebenaran dengan menghancurkan musuh-musuh-Nya yang jahat, terutama yang menyalibkan-Nya.

Saya mencoba menjawab anak muda itu dengan mengatakan bahwa meskipun Yesus sangat berkuasa sebagai Tuhan, Dia mengasihi semua orang bahkan orang berdosa, bahkan orang-orang jahat yang menyalibkan-Nya. Dia tidak ingin menghancurkan mereka tetapi ingin memenangkan mereka dengan kasih-Nya. Alih-alih membinasakan mereka, Dia berdoa agar perbuatan jahat mereka diampuni dan bahwa, dengan menerima pengampunan-Nya, mereka juga, seperti pencuri yang bertobat, akan diberi tempat di Kerajaan Allah. Yesus ingin mengatasi kekerasan dengan tanpa kekerasan (seperti yang dilakukan Gandhi setelahnya) dan mengatasi kejahatan dan dosa dengan kasih.

Tanda bahwa ini benar-benar terjadi adalah bahwa Yesus bangkit dari kematian pada hari ketiga atau Minggu Paskah pagi. Ini menunjukkan bahwa Yesus telah menaklukkan dosa dan kematian, musuh besar kita.

Jadi, orang Kristen menyebut hari ini sebagai “Good Friday” karena di sana terlihat kebaikan tertinggi dan kasih Tuhan yang luar biasa dan tawaran keselamatan Tuhan kepada semua orang melalui pengampunan dan penebusan dosa-dosa mereka.

Ini adalah hari yang baik karena Dia menggantikan posisi kita. Ini adalah hari yang baik karena Dia mengalahkan dosa dan kematian sehingga kita tidak akan pernah terpisah dari Tuhan di sisi surga atau di sisi lain. Seandainya Anda bertanya kepada keluarga atau murid-murid Yesus pada hari Dia meninggal, mereka tidak akan mengatakan bahwa itu adalah hari yang baik ketika semua harapan tampaknya hilang, kejahatan dan kematian tampaknya telah menang. Namun, jawaban mereka akan sangat berbeda tiga hari kemudian karena kekuatan kejahatan telah dikalahkan, kematian telah dihancurkan, dan dari titik itu, kita semua memiliki cara untuk bebas dari dosa dan kematian.

Dalam konteks inilah, kata “good” berarti suci atau mulia. Sebab kesengsaraan dan wafat Yesus Kristus menjadi peristiwa kemuliaan-Nya.

Dalam bahasa Indonesia, kita menyebut “Good Friday” dengan istilah Jumat Agung (Great Friday).

Kata “great” tentunya bisa berarti “besar” atau “agung”.

Namun, tampaknya bahasa Indonesia tidak menyerapnya dari bahasa Inggris melainkan dari bahasa Belanda. Sebab yang menyebarkan agama Kristen di Indonesia terutama adalah orang Portugis dan orang Belanda, bukan orang Inggris. Peristilahannya banyak yang diterjemahkan atau diserap dari bahasa Belanda atau Portugis.

Dalam bahasa Belanda, hari raya ini disebut sebagai “Goede Vrijdag” atau “Grote Vrijdag”. Orang Indonesia tidak menyerapnya dari bahasa Portugis “Sexta-feira Santa”, yang berarti “Hari Jumat Suci”.

Di sisi lain, ada kemungkinan istilah Jumat Agung dalam bahasa Indonesia merupakan terjemahan dari bahasa Yunani Μεγάλη Παρασκευή (Megáli Paraskeví), yang secara harafiah berarti “Jumat Besar”. Dalam bahasa Arab pun disebut “الجمعة العظيمة” (“al-jumʿa al-ʿaẓīma”) yang artinya juga “Jumat Besar”. Dalam bahasa Ibrani disebut “Yom Shishi Hatov” יוֹם שִׁשִּׁי הַטּוֹב (Jumat Agung).

Perlu diberi catatan bahwa bahasa Yunani merupakan bahasa yang dipakai dalam Alkitab Perjanjian Baru. Sementara, banyak istilah dalam agama Kristen di Indonesia itu diserap atau diterjemahkan dari bahasa Arab.

Karena itulah di hari Jumat ini, kita punya alasan untuk bersukacita dalam hidup kita. Hal ini bersumber dari karya pengorbanan Yesus di kayu salib dan kebangkitan-Nya menaklukkan kematian. Tanpa salib, kita tentu saja masih akan tetap hidup dalam dosa, kita masih akan membutuhkan penyelamat, kita tidak dihakimi di dunia ini. Tapi Tuhan sangat baik, teramat baik untuk rela mati bagi kita. Karena itulah, “Good Friday” atau Jumat Agung menjadi hari spesial ketika kita menerima hadiah kekal dari Tuhan.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3: 16).

Penulis : Febry Silaban – Mantan Frater Capusin

5 1 vote
Beri Nilai
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments