Sebagai rangkaian perayaan syukur 1 Suro, Paguyuban Ketan Jawi (Keluarga Tanah Jawi) Gereja Santa Clara Paroki Bekasi Utara menyelenggarakan pagelaran Wayang Wahyu bertajuk “Serakah Agawe Susah” pada Jumat. 19 Juni 2026. Gelaran wayang wahyu ini dibawakan oleh dalang Romo Agustinus Handi Setyanto Pr dan dimeriahkan oleh kehadiran sinden Elisa Ocharrus Alasso.
Dimulai pada pukul 20.15 WIB, setelah Misa Jumat dan Adorasi Sakramen Maha Kudus di gereja selesai, gelaran wayang wahyu ini dihadiri sekitar 400 orang yang menonton di area parkir Gereja Santa Clara. Menurut Romo Handi, tema “Serakah Agawe Susah” dipilih karena memiliki pesan yang sangat dekat dengan kehidupan manusia saat ini.
Wayang wahyu sendiri merupakan pertunjukkan wayang yang menggabungkan antara seni tradisional wayang kulit dengan ajaran nilai Kristiani. Pertunjukannya tetap memakai format wayang kulit, seperti ada dalang, gamelan Jawa, hingga sinden. Bedanya, cerita yang dibawakan berasal dari Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Dalam gelaran wayang wahyu kali ini, Romo Handi mengangkat kisah Nabi Elia yang berhadapan dengan Raja Ahab dari Kitab 1 Raja-Raja dalam Perjanjian Lama. Dikisahkan, Raja Ahab menginginkan kebun anggur milik Nabot, seorang rakyat biasa di Israel. Karena tidak dapat memilikinya secara sah, Ahab dibantu istrinya, Ratu Izebel, yang kemudian menyusun fitnah hingga Nabot dihukum mati dengan dirajam.
Kisah ini menjadi gambaran nyata bagaimana keserakahan dapat mendorong seseorang menghalalkan berbagai cara demi memenuhi keinginannya. Pesan kisah tersebut kemudian dikaitkan dengan isu pastoral ekologis yang saat ini menjadi perhatian Gereja.
Menurut Romo Handi, ketika berbicara tentang kerusakan lingkungan, fokus pertama yang harus direfleksikan adalah perilaku manusia itu sendiri. “Kalau kita bicara soal kelestarian alam, kita bicara keutuhan ciptaan, itu membicarakan siapa sih? Membicarakan manusia,” tuturnya menjelaskan.
Ia mengatakan, manusia sering kali menjadi aktor utama di balik berbagai bentuk kerusakan alam akibat gaya hidup konsumtif dan sikap yang tidak pernah merasa cukup. Untuk itu, melalui pertunjukan ini, umat diajak melakukan pemeriksaan batin sederhana, apakah sudah bijak mengelola sampah, mengurangi penggunaan plastik, serta memiliki kebiasaan hidup yang lebih ramah lingkungan.
Wayang sebagai Media Pewartaan
Romo Handi menjelaskan wayang dipilih karena masyarakat Asia memiliki tradisi kuat dalam mendengarkan cerita. Berbeda dari masyarakat Barat yang lebih terbiasa berdiskusi secara konseptual, masyarakat Indonesia lebih mudah memahami pesan melalui kisah dan simbol.
Karena itu, Wayang Wahyu menjadi sarana yang efektif untuk menyampaikan nilai-nilai Kitab Suci dalam bentuk yang lebih mudah dipahami. Menurutnya, pertunjukan wayang mengubah pesan dari sekadar narasi menjadi pengalaman yang dapat dilihat, dirasakan, dan dinikmati bersama.
“Menjadi kesempatan baik untuk bagaimana memahami isi Kitab Suci dengan mudah karena kita mendengarkan cerita. Bahkan di situ ada hiburan, tidak tegang,” tuturnya. Selain itu, untuk menjangkau lebih banyak umat, gelaran wayang wahyu kali ini juga dikisahkan dalam Bahasa Indonesia. Meskipun beberapa kali juga diselingi dengan penggunaan Bahasa Jawa.
Dengan pendekatan tersebut, siapa pun yang hadir diharapkan tetap dapat menangkap pesan dan suasana spiritual yang ingin disampaikan, meskipun tidak memahami seluruh simbol dan bahasa yang digunakan dalam tradisi pewayangan Jawa.
Gereja dan Budaya Berjalan Bersama
Pagelaran wayang wahyu ini pun disambut baik oleh Romo Kaprilius Sitepu OFM Capusin sebagai Kepala Paroki. Menurutnya, kegiatan semacam ini mencerminkan cara Gereja memandang budaya, yakni bukan sebagai sesuatu yang harus dihilangkan, melainkan sebagai kekayaan yang perlu dirawat dan diperkaya dengan nilai-nilai Injil.
“Kehadiran Gereja bukan untuk menghilangkan budaya yang sudah hidup di tengah masyarakat. Sebaliknya, Gereja hadir untuk menyempurnakan, memperkaya, dan memberikan nilai yang lebih mendalam pada budaya tersebut,” tutur Romo Kapri.
Ia menjelaskan, dukungan terhadap pagelaran wayang wahyu tidak hanya didasarkan pada aspek pelestarian budaya atau pertunjukan seni semata. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana untuk menumbuhkan nilai-nilai positif dalam kehidupan umat.
“Di berbagai budaya terdapat nilai-nilai baik yang telah digali dan diwariskan secara turun-temurun. Kehadiran Gereja membantu memperdalam serta memperkaya nilai-nilai tersebut sehingga semakin bermakna bagi kehidupan manusia,” katanya.
Untuk itu, pagelaran Wayang Wahyu tidak hanya menjadi hiburan atau tontonan budaya, melainkan juga sarana pewartaan yang membantu umat semakin mengenal Allah melalui pendekatan yang dekat dengan budaya lokal.
Melalui kegiatan seperti ini pula, Gereja ingin menunjukkan bahwa kekayaan budaya lokal dapat menjadi jembatan yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai iman, mempererat persaudaraan, sekaligus memperkaya pengalaman spiritual umat.
“Kiranya lewat kegiatan ini paguyuban semakin guyub, semakin bersatu, dan mau menunjukkan bahwa kita sebagai paguyuban memperkaya dan memaknai lagi lebih dalam iman kita. Sehingga kegiatan ini membuat kita semakin beriman dan semakin dilimpahi cinta kasih,” ujar Romo Kapri.
Wayang Wahyu yang Menyentuh Semua Kalangan
Sebagai salah satu sinden yang terlibat dalam pagelaran Wayang Wahyu “Serakah Agawe Susah”, Elisa Ocharrus Alasso menjelaskan, pertunjukan kali ini dirancang dengan pendekatan yang berbeda dari pementasan wayang pada umumnya. Berbagai unsur musikal, termasuk gending dan lagu-lagu yang dibawakan, disesuaikan agar lebih mudah diterima oleh umat dari beragam latar belakang budaya.
Ia mengatakan, penonton yang hadir tidak hanya berasal dari kalangan masyarakat Jawa. Umat Katolik di Santa Clara berasal dari berbagai daerah di Indonesia, sehingga pertunjukan perlu dikemas agar tetap dapat dinikmati oleh siapa saja.
Karena itu, selain menggunakan Bahasa Indonesia sebagai jembatan komunikasi, berbagai elemen artistik juga dirancang agar mampu menghadirkan pengalaman yang hangat dan menyentuh, bahkan bagi mereka yang belum pernah menyaksikan wayang sebelumnya.
“Harapan kami, meskipun mungkin tidak memahami seluruh bahasa atau makna setiap bagian cerita, siapa pun yang hadir tetap bisa merasakan kehangatan, kekhusyukan, dan suasana spiritual yang ingin kami bangun melalui pertunjukan ini.”
Selain membawa pesan iman, Elisa juga berharap pagelaran wayang wahyu dapat menjadi sarana menumbuhkan kecintaan terhadap budaya bangsa. Menurutnya, budaya tradisional sering kali dijauhi karena dianggap kuno atau tidak menarik, padahal di dalamnya tersimpan nilai-nilai yang sangat berharga.
“Jangan langsung menilai budaya itu kuno atau tidak menarik. Cobalah dirasakan terlebih dahulu, baru kemudian dipahami. Budaya adalah kekayaan yang kita miliki. Sangat sayang kalau justru kita sendiri tidak mau mengenal atau mempelajarinya,” tuturnya.
Menurut Elisa, langkah pertama untuk mencintai budaya adalah berani mendekat dan merasakannya. Dari pengalaman tersebut akan tumbuh ketertarikan yang kemudian berkembang menjadi pemahaman dan kecintaan yang lebih mendalam.






Upaya Panitia Menghadirkan Suasana Hangat
Panitia dari Paguyupan Ketan Jawi berusaha semaksimal mungkin dalam menyambut umat dan para tamu yang hadir, agar suasana hangat dan menyenangkan bisa dirasakan. Jauh-jauh hari panitia telah berkoordinasi dengan Tim K3 (Keamanan, Ketertiban dan Keparkiran) mengenai lokasi parkir agar umat yang hadir tidak kesulitan memarkir kendaraan. Panitia juga menyiapkan tempat transit khusus bagi dalang, sinden dan pengrawit sehingga mereka merasa disambut dengan baik.
Among tamu berjumlah 25 orang dengan berpakaian nuansa Jawa Tengah juga disiapkan di pintu masuk areal pagelaran wayang agar para penonton dihargai kehadirannya. Para penonton juga dipersilahkan mengisi buku tamu seperti halnya jika menghadiri suatu perhelatan penting. Untuk menghangatkan suasana, panitia juga menyiapkan teh panas, kopi, kudapan berupa rebus-rebusan, bubur ayam dan kembang tahu jahe yang bisa dinikmati para penonton secara cuma-cuma. UMKM Gereja Santa Clara juga menggelar lapak untuk memperkaya pilihan camilan bagi para penonton.
Dalam sesi pertunjukan “Goro-Goro” saat muncul tokoh wayang Aman dan Amin, para sinden juga turun panggung untuk menyapa para penonton dengan bernyanyi dan berjoget bersama. Suasana malam itu sangat hangat dan menyenangkan. Bahkan tanpa terasa pagelaran baru selesai pada pukul 24.15 dan para penonton masih setia duduk di bangku masing-masing.
Mario Damar
Santa Clara Bekasi Paroki Bekasi Utara