Wanita Belia Pemberani

Bekasi,SuaraClara – Siapa bilang wanita itu lemah, atau selalu lemah? Banyak contoh menunjukkan bahwa para wanita itu adalah makhluk kuat dan pemberani. Bahwa ada wanita yang tergolong penakut, sama halnya bahwa tidak semua laki-laki adalah pemberani. Namun, tulisan singkat ini tidak sedang mengajak anda menciptakan posisi dikotomis antara laki-laki dan perempuan. Bukan itu.

Di seputar Natal kita mengenal seorang tokoh perempuan pemberani. Dialah Maria, ibu Yesus. Di mana letak keberaniannya? Bukankah dia ”hanya” menjalani kodratnya sebagai wanita yang mengandung, melahirkan dan memelihara Anaknya seperti wanita lain? Sampai di sini, tahan dulu.

Seperti dikisahkan dalam Injil Lukas 1:26-27, malaikat Gabriel diutus Allah untuk membawa kabar gembira kepada Maria yang sedang bertunangan dengan Yoseph, bahwa dia akan mengandung seorang bayi.

Di saat itu, Maria yang diperkirakan berusia 13-15 tahun, sadar sesadar-sadarnya bahwa dia belum pernah berhubungan badan dengan Yoseph tunangannya yang diperkirakan berusia 30 tahun itu. Dan kita tahu dari Injil, Yoseph mau meninggalkan Maria secara diam-diam karena tidak merasa pernah berhubungan badan dengannya.

Di tengah kesadaran penuh bahwa dia belum berhubungan dengan lelaki manapun sebagai penyebab ”Normal” dari sebuah kehamilan, Maria berani menerima Kabar Gembira itu dengan mengatakan: Aku ini Hamba Tuhan, terjadilah kepadaku menurut perkataanmu itu. Hanya wanita berani dan tulus yang mampu melakukan ini.

Maria seorang remaja tanggung diperhadapkan dengan tugas berat—dalam sejarah penebusan, dan sanksi sosial yang kejam yang bakal diterimanya. Bisa dirajam sampai mati.

Di satu sisi, Maria dengan penuh iman menerima tugas amat penting dalam karya penebusan itu. Di sisi lain, bukan karakter Allah untuk memaksakan kehendak kepada manusia. Sehingga dengan kehendak bebas, sebenarnya Maria berhak atau bisa saja menolak tugas itu. Tapi sekali lagi, di sinilah letak istimewanya seorang wanita bernama Maria itu.

Maka sangat manusiawi sekaligus ilahi bahwa Maria adalah teladan luar biasa hidup manusia atau tempat belajar dan menimba keberanian, kesetiaan, ketekunan, juga keuletan memelihara relasi dengan keluarga. Kisah tentang kunjungannya kepada Elisabeth sepupunya di Desa Ain Karem di Yudea, dekat Yerusalem, secara terang benderang pula menunjukkan keberanian tersebut.
Bayangkan! Jarak dari Nazareth ke Ain Karem sekitar 140 km, dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau mengendarai hewan selama 4-5 hari. Ini kan sebuah keberanian yang luar biasa.

Sampai pada ”sepenggal” kisah ini saja, sudah bertimbun rasa hormat, kagum, takjub penuh takzim pada keberanian Bunda Maria. Belum lagi peran lanjutannya dalam sejarah penebusan. Dia berani, rela menyertai dan menyaksikan Putranya mengalami deraan keji, disalibkan dan mati tragis di palang kayu hina itu.
Maka sangat beralasan kita menghargai dan menghormati Bunda Maria serta memberikan tempat istimewa kepadanya di hati kita.

Bunda Maria adalah tokoh sangat penting. Bagaimana mungkin kemudian ada orang yang mengakui perannya, tapi serentak dengan itu mau menghapus sosoknya? Atau bagaimana mungkin, orang yang sama menyembah-nyembah Buah Tubuh, yakni Yesus Kristus, tapi bersamaan dengan itu menyingkirkan atau membenci Bunda Gereja ini? Manusia macam apakah yang begini ini?

Pada perayaan Natal di Gereja Santa Clara, Bekasi Utara tahun ini ada bagian liturgi yang menunjukkan penghormatan lebih dan animasi terhadap peran Bunda Maria. Jika biasanya, animasi Bunda Maria hanya tampak melalui kesertaan pasangan Maria dan Yoseph dengan patung bayi Yesus yang digendong Maria dalam perarakan, kali ini ada bagian di mana imam mendupai dan mendaraskan doa di hadapan Patung Bunda Maria. Ditonjolkan pula suasana kelahiran dengan gerakan imam menyibak kain penutup bayi Yesus.

Tidak ada pemadaman lampu sebagai simbol suasana malam, lalu dihidupkan setelah lagu Malam Kudus dinyanyikan sebagaimana selama ini dilakukan di gereja-gereja.
Menurut penjelasan pakar liturgi Pastor Emanuel Sembiring, OFM Cap, inilah yang membedakan Paskah dengan Natal.

Pada Paskah, Lilin Paskah menyimbolkan Cahaya Kristus yang bangkit. Di sini upacara cahaya sangat menonjol.

Sedangkan hal terpenting dalam Natal adalah kelahiran, sehingga animasi kelahiranlah yang semestinya ditonjolkan. ”Dengan demikian, fungsi lilin menjadi tidak signifikan,” jelas imam bersuara merdu itu.

Oleh Emanuel Dapa Loka, Anggota Lingkungan Padre Pio 2

5 4 votes
Beri Nilai
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar