Misa – Santa Clara Bekasi https://gerejasantaclara.or.id Paroki Bekasi Utara Mon, 01 Jun 2026 08:36:31 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.1.2 https://gerejasantaclara.or.id/wp-content/uploads/2024/08/cropped-iconclara-32x32.png Misa – Santa Clara Bekasi https://gerejasantaclara.or.id 32 32 Penutupan Bulan Maria : Rosario, Misa dan Pemberkatan Sacrarium https://gerejasantaclara.or.id/penutupan-bulan-maria-rosario-misa-dan-pemberkatan-sacrarium/ https://gerejasantaclara.or.id/penutupan-bulan-maria-rosario-misa-dan-pemberkatan-sacrarium/#respond Mon, 01 Jun 2026 08:35:19 +0000 https://gerejasantaclara.or.id/?p=7551 Umat Paroki Bekasi Utara menutup rangkaian devosi Bulan Maria tahun 2026 pada Minggu, 31 Mei 2026 pukul 17.00 WIB di Gereja Santa Clara. 

Acara dibuka dengan tanda salib dan pengantar  yang dipimpin oleh Pastor Kaprilius Sitepu OFM Capusin dan Pastor Jona Joakim Pinem OFM Capusin di depan Gedung Karya Pastoral. Doa pembuka dan lagu pujian mengawali seluruh rangkaian doa, menandai rasa syukur umat atas penyertaan Bunda Maria sepanjang bulan Mei ini.  

Begitu Doa Rosario sampai pada peristiwa kedua, dilaksanakan perarakan patung Bunda Maria dari depan GKP menuju Plaza Maria. Umat berjalan bersama sambil mendaraskan Doa Rosario dan membawa lilin menyala. Perarakan ini menjadi ungkapan cinta, hormat, dan devosi umat kepada Bunda Maria, Ratu Rosari.  Sampai di depan Plaza Maria, Rosario tetap berjalan dan diselesaikan sampai pada peristiwa kelima.  Sebelum Rosario ditutup, umat yang dari awal membawa persembahan bunga mawar maju mempersembahan bunga mawarnya ke depan patung Bunda Maria Memanggil. Pastor Kapri menutup doa Rosario dengan berkat meriah dan tanda salib.

Puncak acara Penutupan Bulan Maria  adalah perayaan Ekaristi di dalam Gereja Santa Clara. Dalam homilinya, Romo Kapri mengajak umat meneladani pentingnya kebersamaan dan menolak kesendirian. Allah sebagai Persekutuan Kasih, yang sempurna antara Bapa, Putra dan Roh Kudus.  Sifat Allah yang Penyayang dan Penuh Kasih ditunjunjukkan dalam injil Yohanes di mana Allah mengaruniakan Putra Tunggal-Nya ke dunia bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyelamatkan. Pastor Jona mengajak umat Santa Clara  untuk menghidupi misteri Titunggal Mahakudus ini dalam kehidupan sehari-hari dengan cara : membangun jembatan, bukan membangun tembok, mengatasi kesendirian dan kesepian dan saling mendukung.

Setelah Misa, acara dilanjutkan dengan pemberkatan Sacrarium yang baru di taman depan ruang tamu pastoran. Sacrarium adalah tempat khusus untuk membuang air pembasuhan tangan imam, air baptis, sisa Sakramen Maha Kudus, serta mengubur benda-benda sakramentali seperti rosario yang patah, patung rusak, atau gambar suci yang sudah tidak layak pakai.

Pemberkatan ini dipimpin Pastor Kaprilius dan  Pastor  Jona diikuti doa bersama seluruh umat. Pada kesempatan ibadat ini Pastor Kapri menghimbau umat agar membawa benda-benda sakramentali atau yang sudah diberkati dan sudah rusak untuk dikubur di Sacrarium. Hal ini sebagai bentuk penghormatan umat Katolik bahwa segala sesuatu yang dikhususkan bagi Tuhan harus diperlakukan secara layak, termasuk saat sudah tidak digunakan.

Melalui pemberkatan Sacrarium, umat diingatkan kembali pada ajakan Paus Fransiskus tentang “Pertobatan Ekologis”: merawat rumah bersama dan menjaga kekudusan dengan tindakan nyata yang sederhana.

Acara ditutup dengan doa penutup dan berkat. Suasana penuh Syukur, dan kebersamaan terasa hingga akhir acara. 

Tuti Cahaya

]]>
https://gerejasantaclara.or.id/penutupan-bulan-maria-rosario-misa-dan-pemberkatan-sacrarium/feed/ 0
Misa Arwah Semua Orang Beriman https://gerejasantaclara.or.id/misa-arwah-semua-orang-beriman/ https://gerejasantaclara.or.id/misa-arwah-semua-orang-beriman/#respond Mon, 21 Oct 2024 03:03:36 +0000 https://gerejasantaclara.or.id/?p=2714
misa arwah santa clara bekasi 01

]]>
https://gerejasantaclara.or.id/misa-arwah-semua-orang-beriman/feed/ 0
Gereja Santa Clara Gelar Misa Syukur dan Upacara HUT ke-79 Kemerdekaan RI https://gerejasantaclara.or.id/gereja-santa-clara-gelar-misa-syukur-dan-upacara-hut-ke-79-kemerdekaan-ri/ https://gerejasantaclara.or.id/gereja-santa-clara-gelar-misa-syukur-dan-upacara-hut-ke-79-kemerdekaan-ri/#comments Sat, 17 Aug 2024 06:33:58 +0000 https://gerejasantaclara.or.id/?p=1530 Bekasi,Suara Clara – Puluhan Umat Gereja Santa Clara Paroki Bekasi Utara menggelar upacara bendera untuk merayakan HUT ke-79 Kemerdekaan RI di lapangan parkir gereja, sesudah Misa Syukur Kemerdekaan di Gereja Santa Clara, Sabtu (17/8/24).

Bertindak sebagai Pembina Upacara Plt Pastor Kepala Paroki Romo Kaprilius,OFMCap dihadiri puluhan umat serta petugas upacara dari siswa-siswi Sekolah Strada Budi Luhur Kota Bekasi.

Dalam tradisi liturgi (ibadah) Gereja Katolik Indonesia, peringatan HUT Kemerdekaan Bangsa Indonesia ditetapkan sebagai Hari Raya. Itulah sebabnya di seluruh Gereja Paroki diajak untuk merayakan Ekaristi.

Umat Katolik Indonesia senantiasa diajak menghayati semangat Mgr Albertus Soegijapranata untuk menjadi 100 persen Katolik, 100 persen Indonesia.

Dirgahayu Republik Indonesia! Semoga adil sejahtera merata seluruh rakyat Indonesia dalam kemanusian yang adil dan beradab serta persatuan Indonesia.

S Jumar Sudiyana
Sie Komsos

]]>
https://gerejasantaclara.or.id/gereja-santa-clara-gelar-misa-syukur-dan-upacara-hut-ke-79-kemerdekaan-ri/feed/ 1
Misa Inkulturasi Jawa di Gereja Santa Clara, Bekasi Utara. Wujudkan Toleransi Umat Berbeda Budaya. https://gerejasantaclara.or.id/misa-inkulturasi-jawa-di-gereja-santa-clara-bekasi-utara-wujudkan-toleransi-umat-berbeda-budaya/ https://gerejasantaclara.or.id/misa-inkulturasi-jawa-di-gereja-santa-clara-bekasi-utara-wujudkan-toleransi-umat-berbeda-budaya/#respond Mon, 05 Aug 2024 09:44:38 +0000 https://gerejasantaclara.or.id/?p=712 Suasana di Gereja Santa Clara,Bekasi Utara pada Sabtu (6/7/2024) sore pukul 17.00 WIB, terasa begitu istimewa. Suasana adat dan nuansa budaya Jawa memenuhi ruang gereja saat perayaan Misa Inkulturasi Jawa dalam rangka Peringatan malam 1 Suro digelar dengan khidmat.

Dipimpin oleh Pastor Masseo Sitepu,OFM Cap sebagai konselebran utama yang didampingi Pastor Monald Banjarnahor,OFM Cap dan Pastor Zakaria Ginting,OFM Cap diawali dengan tata cara perarakan penuh khidmat diiringi gamelan serta paduan suara yang mengenakan busana adat Jawa. 

Dalam khotbahnya Pastor Maseo Sitepu menuturkan bahwa Misa Inkulturasi yang mengusung adat budaya berbeda-beda dapat memperkenalkan dan menghargai keanekaragaman budaya yang dimiliki umatnya serta membuktikan budaya dapat menyatu dengan gereja.

“Perbedaan budaya jangan malah menjadikan perpecahan justru harus dimaknai sebagai sarana persatuan dan menyatukan umat,” ujar Pastor Masseo.

Misa Inkulturasi bisa menggambarkan bagaimana gereja berusaha menghargai budaya-budaya setempat, menyatukan adat istiadat tanpa menghilangkan susunan tata peribadatan. 
Meskipun berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda, umat dapat bersatu dalam semangat cinta akan seni dan kearifan lokal Jawa.

Dalam Misa Inkulturasi Jawa tersebut kehadiran unsur-unsur budaya dan adat istiadat Jawa sungguh terasa sangat kental. Mulai dari dekorasi altar, busana para umat yang menggunakan busana adat jawa seperti kebaya, batik, kemben, blangkon, kemudian musik hingga paduan suara diiringi oleh gamelan khas jawa.

Meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda, para jemaat bersatu dalam semangat cinta akan seni budaya dan kearifan lokal Jawa.

Sementara itu Panitia Misa Inkulturasi Jawa Paroki Santa Clara sekaligus Ketua Paguyuban Ketan Jawi Muji (66) dalam sambutannya menjelaskan bahwa tanggal satu suro merupakan tanggal awal tahun baru kalender Jawa.

Dalam perayaannya, Tradisi Suro lekat dengan tradisi turun-temurun masyarakat Jawa yang masih berpegang pada tradisi para leluhur. Bulan Suro dianggap oleh masyarakat suku Jawa sebagai bulan sakral. Mereka menghindari hal-hal besar yang menyangkut kehidupan mereka dalam bulan tersebut dan melakukan banyak aktivitas.

Artikel ini telah tayang di https://www.sonora.id dengan judul “Misa Inkulturasi Jawa di Gereja Santa Clara, Bekasi Utara. Wujudkan Toleransi Umat Berbeda Budaya.”.

“Bagi masyarakat Surakarta dan Yogyakarta malam Satu Suro digelar ritual Mubeng Benteng. Tradisi atau ritual ini dilakukan sebagai bentuk tirakat atau pengendalian diri dan memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa,”ujar Muji.

Muji menambahkan dalam tradisi Jawa, Bulan Suro dianggap sebagai momen paling tepat untuk introspeksi diri dan mawas diri untuk setahun perjalanan hidup.

“Intropeksi diri bisa dilakukan dengan menjalankan beberapa kegiatan seperti tidak tidur semalaman, tirakat, berpuasa, dan tidak bicara atau tapa bisu,” tambah pria asal Boro, Kulon Progo tersebut.

Pentas Budaya Nusantara

Setelah misa selesai, seluruh umat diajak untuk menyaksikan berbagai kesenian dan lagu-lagu daerah dari masing-masing Lingkungan Paroki Santa Clara, Bekasi di Basement Gedung Gereja serta banyak hadiah menarik atau door prize dari panitia.

Masing-masing lingkungan menampilkan seni budaya seperti alunan musik Campursari dari suku Jawa, Lagu khas Sumatera Utara dari suku Batak, Tarian dari Suku Flores, Tarian khas Bali, Lagu-lagu dan Tari dari Kerukunan Tionghoa hingga Tari Betawi.

Ketiga pastor dan seluruh umat yang hadir membaur bersama ikut menyanyi dan berdendang mengikuti alunan musik dan tari yang ditampilkan para kontestan.

]]>
https://gerejasantaclara.or.id/misa-inkulturasi-jawa-di-gereja-santa-clara-bekasi-utara-wujudkan-toleransi-umat-berbeda-budaya/feed/ 0