katolik – Santa Clara Bekasi https://gerejasantaclara.or.id Paroki Bekasi Utara Mon, 14 Sep 2026 12:41:37 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.1.2 https://gerejasantaclara.or.id/wp-content/uploads/2024/08/cropped-iconclara-32x32.png katolik – Santa Clara Bekasi https://gerejasantaclara.or.id 32 32 PELANTIKAN KATEKUMEN : Makin Yakin Mengikuti Yesus Secara Katolik https://gerejasantaclara.or.id/pelantikan-katekumen-makin-yakin-mengikuti-yesus-secara-katolik/ https://gerejasantaclara.or.id/pelantikan-katekumen-makin-yakin-mengikuti-yesus-secara-katolik/#respond Mon, 14 Sep 2026 12:41:35 +0000 https://gerejasantaclara.or.id/?p=8034 Sejumlah 77 peserta pra katekumen hadir dalam Misa Minggu Biasa XXIV, 13 September 2026 pukul 17.00 di Gereja Santa Clara Paroki Bekasi Utara. Wajah mereka tampak berbinar oleh antusiasme. Mereka diberikan tempat duduk khusus di depan altar dan mengenakan pakaian berwarna putih. Para katekis juga tampak mendampingi mereka. Misa dipimpin secara konselebrasi oleh Pastor Kaprilius Sitepu OFM Capusin dan Pastor Norbid Ambarita OFM Capusin. Sebelum misa dimulai, komentator mengumumkan bahwa saudara-saudari ini telah mengikuti masa pra katekumen dan akan dilantik secara resmi sebagai katekumen. Mereka akan melanjutkan pelajaran mengenal iman Katolik dalam masa katekumenat sampai dilantik menjadi calon baptis dan akhirnya dibaptis secara Katolik atau diterima secara resmi ke dalam Gereja Katolik.

               Setelah homili, Primus Kasimo salah satu katekis yang selama ini mendampingi kelas pra katekumen usia remaja, maju ke mimbar komentator untuk mengajak peserta bangkit berdiri dan menyerahkan mereka kepada Pastor Kaprilius Sitepu OFM Capusin untuk melantik mereka sebagai katekumen. Sebelum melantik, Pastor menanyakan tentang apa yang diminta oleh para peserta kepada Gereja Katolik. Mereka menjawab serentak bahwa mereka meminta iman.

Maka kemudian Romo mendoakan mereka dan memberikan tanda salib di dahi mereka satu per satu dengan Minyak Katekumen (OC/ Oleum Catechumenorum). Dengan urapan Minyak Katekumen ini, Roh Kudus akan menguatkan keyakinan mereka untuk mengikuti Yesus secara Katolik dan terus bertekun mengikuti pengajaran-pengajaran iman selama masa katekumenat. Peserta maju satu per satu untuk menerima Minyak Katekumen sambil diiringi lagu “Ya Yesus Kau Menantikan” dari Puji Syukur nomor 693. Setelah itu Romo menyerahkan salib dan Kitab Suci kepada perwakilan katekumen sebagai tanda bahwa mereka kini telah mulai berjalan di bawah naungan Kristus  dan lambang komitmen untuk tekun belajar mengikuti Yesus Kristus sebagai murid-Nya.

Pelantikan katekumen merupakan tahap pertama dari proses inisiasi dalam Gereja Katolik. Para simpatisan yang telah mengikuti masa pra katekumenat secara resmi diterima oleh Gereja untuk memulai masa pembelajaran iman atau katekumenat. Setelah mengikuti masa katekumenat, kelak mereka akan dilantik lagi menjadi calon baptis. Dan setelah mengikuti rekoleksi dan Gladi Bersih penerimaan Sakramen Baptis, mereka akan dibaptis atau diterima resmi ke dalam Gereja Katolik. Peserta dari gereja lain yang sudah dibaptis dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus akan diterima secara resmi ke dalam Gereja Katolik. Sedangkan peserta yang baptisan sebelumnya belum menggunakan rumusan Trinitas, belum pernah dibaptis meskipun dari keluarga Katolik, atau berasal dari latar belakang non Kristen, akan dibaptis.

Selama masa pra katekumenat dan katekumenat, peserta dibagi ke dalam 5 kelompok belajar. Kelompok anak usia 7-13 tahun, Remaja usia 14-17 tahun, Dewasa 18 tahun ke atas yang berlatar belakang Kristen protestan, Dewasa 18 tahun ke atas yang berlatar belakang dari agama non Kristen, dan kelas online. Kelas online untuk melayani mereka yang sedang tugas kerja ke luar kota atau yang pekerjaannya terkena shift sehingga tidak bisa mengikuti Pelajaran tatap muka.

Sie Katekese

]]>
https://gerejasantaclara.or.id/pelantikan-katekumen-makin-yakin-mengikuti-yesus-secara-katolik/feed/ 0
FESTIVAL BKSN 2026 : Sarana Seru Mencintai Sabda Allah https://gerejasantaclara.or.id/festival-bksn-2026-sarana-seru-mencintai-sabda-allah/ https://gerejasantaclara.or.id/festival-bksn-2026-sarana-seru-mencintai-sabda-allah/#respond Mon, 14 Sep 2026 12:38:36 +0000 https://gerejasantaclara.or.id/?p=8022 Dalam rangka memeriahkan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026, Gereja Santa Clara menggelar Festival Bulan Kitab Suci pada Sabtu, 12 September 2026. Kegiatan yang dimulai pada pukul 08.00 WIB ini berlangsung dalam suasana penuh sukacita dan antusiasme, dengan melibatkan umat dalam berbagai perlombaan yang terbagi dalam beberapa kategori. Melalui kegiatan tersebut, umat diajak untuk semakin mengenal dan mendalami Kitab Suci sekaligus membangun kebersamaan di tengah kehidupan menggereja.

Acara lomba BKSN secara resmi dibuka oleh Ketua Sie Kerasulan Kitab Suci Gereja Santa Clara Hendrikus Jehamat. Festival BKSN tahun ini menghadirkan tiga perlombaan, yaitu Lomba Membawakan/Menghafal Ayat Kitab Suci, Lomba Narasi Kitab Suci, dan Lomba Pemazmur. Ketiga perlombaan tersebut terbagi dalam beberapa kategori usia dan diikuti oleh umat dari berbagai lingkungan. Masing-masing perlombaan dilaksanakan di ruangan yang berbeda dengan ketentuan ayat Kitab Suci yang telah ditentukan oleh panitia.

Pada Lomba Membawakan/Menghafal Ayat Kitab Suci, peserta terbagi dalam tiga kategori, yaitu usia 4–6 tahun, usia 7–13 tahun, serta lansia usia 55 tahun ke atas. Kegiatan lomba tersebut dilaksanakan di ruangan Bunda Theresa dan Fidelis. Para peserta menunjukkan kemampuan mereka dalam membawakan dan menghafalkan ayat Kitab Suci di hadapan dewan juri. Penampilan para peserta dinilai oleh para juri yang terdiri dari Lucia Erni, Rini Giri, dan Afandi Sugiarto. Meski memiliki rentang usia yang berbeda, setiap peserta tampak berusaha memberikan penampilan terbaiknya.

Perlombaan berikutnya adalah Lomba Narasi Kitab Suci yang diperuntukkan bagi peserta usia 10–15 tahun serta peserta usia 16 tahun ke atas. Lomba tersebut dilaksanakan di ruangan YP dan Antonius. Melalui perlombaan ini, peserta tidak hanya dituntut untuk memahami isi Kitab Suci, tetapi juga mampu menyampaikannya melalui kemampuan bernarasi dengan cara yang menarik. Pada perlombaan ini, peserta menunjukkan antusiasme melalui penampilan mereka dan berusaha memberikan hasil yang terbaik di hadapan para juri. Penampilan para peserta dinilai oleh para juri yang terdiri dari Steny Jehadut, Pontianus Gianto, dan Anjarwati.

Sementara itu, Lomba Pemazmur dibagi menjadi dua kategori, yaitu kategori anak atau remaja sampai dengan 14 tahun dan kategori umum usia 15 tahun ke atas. Kegiatan lomba tersebut dilaksanakan di Aula Fransiskus. Peserta membawakan mazmur dengan kemampuan vokal dan penghayatan masing-masing. Perlombaan ini turut memberikan warna tersendiri dalam Festival Bulan Kitab Suci karena peserta dapat mengungkapkan pesan Kitab Suci melalui lantunan mazmur. Penilaian dilakukan oleh Elisabeth Sri Kurniasih, Anastasia Setyowati, dan Gego.  

Antusiasme peserta terlihat sepanjang pelaksanaan perlombaan. Meskipun setiap peserta berusaha memberikan penampilan terbaik untuk meraih hasil yang maksimal, kegiatan tetap berlangsung dalam suasana penuh sukacita dan kebersamaan. Kehadiran umat yang memberikan dukungan juga turut menambah semarak Festival Bulan Kitab Suci Paroki Bekasi Utara.

Setelah seluruh perlombaan dan proses penjurian selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pengumuman para pemenang serta penyerahan hadiah lomba. Pada Lomba Membawakan/Menghafal Ayat Kitab Suci, kategori usia 4–6 tahun, juara pertama diraih oleh Margaretha Nodhi Bora dari Lingkungan Catarina da Siena 4. Pada kategori usia 7–13 tahun, juara pertama diraih oleh Veronika Giselle dari Lingkungan Agnes 3, disusul Leonardo Asher Foarotta dari Lingkungan Bunda Teresa 3 sebagai juara kedua dan Ghisel Anastasya Jen dari Lingkungan Konradus 5 sebagai juara ketiga. Sementara itu, kategori lansia usia 55 tahun ke atas menempatkan Yovitta Henni dari Lingkungan Bonaventura 2 sebagai juara pertama, Gainim Innocentia Sijabat dari Lingkungan Catarina da Siena 3 sebagai juara kedua, dan Fransiskus Xaverius Soesilo dari Lingkungan Antonius 1 sebagai juara ketiga.

Pada Lomba Narasi Kitab Suci, kategori usia 10–15 tahun, juara pertama diraih oleh Magdalena Michelle Gladys dari Lingkungan Petrus 7, diikuti Elisa Elisabeth dari Lingkungan Bunda Teresa 3 sebagai juara kedua dan Michaela Valerie dari Lingkungan Agnes 3 sebagai juara ketiga. Untuk kategori usia 16 tahun ke atas, Yosafhat Christian dari Lingkungan Bonaventura 5 berhasil meraih juara pertama, Maria Kristyani dari Lingkungan Agnes 3 sebagai juara kedua, serta Yohanes Tri Prianto dari Lingkungan Catarina da Siena 4 sebagai juara ketiga.

Sementara itu, pada Lomba Pemazmur kategori anak atau remaja usia sampai dengan 14 tahun, juara pertama diraih oleh Angela Vania Leo dari Lingkungan Paulus 4, disusul Florencia Aiko dari Lingkungan Padrepio 2 sebagai juara kedua dan Liora Shane Avisa Situmorang dari Lingkungan Catarina da Siena 4 sebagai juara ketiga. Pada kategori umum usia 15 tahun ke atas, juara pertama diraih oleh Fransiskus Nainggolan dari Lingkungan Agnes 4, juara kedua oleh Theresia Ivana dari Lingkungan Antonius 2, dan juara ketiga oleh Rudi Pangidoan dari Lingkungan Fidelis 3.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan foto bersama dan doa penutup. Lebih dari sekadar ajang perlombaan, Festival Bulan Kitab Suci di Gereja Santa Clara menjadi ruang bagi umat untuk semakin mengenal, mencintai, dan menghidupi Sabda Tuhan melalui kebersamaan. Semangat yang hadir dalam kegiatan ini diharapkan dapat terus dibawa dalam kehidupan sehari-hari, sehingga Kitab Suci tidak hanya dibaca, tetapi juga menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan, agar kita tidak terlalu khawatir menghadapi kegelisahan jaman.

Julia – Komsos

]]>
https://gerejasantaclara.or.id/festival-bksn-2026-sarana-seru-mencintai-sabda-allah/feed/ 0
BKSN LINGKUNGAN : Lingkungan Petrus 7 Makin Peduli dan Adil https://gerejasantaclara.or.id/bksn-lingkungan-lingkungan-petrus-7-makin-peduli-dan-adil/ https://gerejasantaclara.or.id/bksn-lingkungan-lingkungan-petrus-7-makin-peduli-dan-adil/#respond Sun, 13 Sep 2026 16:32:00 +0000 https://gerejasantaclara.or.id/?p=8017 Sebanyak 22 umat, baik anak-anak, remaja, dewasa maupun lansia, berkumpul di rumah salah satu umat Lingkungan Petrus 7 pada Sabtu, 12 September 2026 pukul 19.00. Meskipun baru pulang dari kerja dan menjalankan berbagai aktivitas, namun semua tampak antusias dan sukacita menghadiri pertemuan.  Mereka menyelenggarakan kegiatan BKSN (Bulan Kitab Suci Nasional 2026 tingkat lingkungan, pertemuan ke-2.

Pada pertemuan BKSN minggu kedua ini, keluarga Bapak Rony yang bertempat di The Palm Residence membuka pintu kediamannya lebar-lebar bagi kedatangan seluruh umat. Seluruh keluarga tampak gembira menyambut umat yang hadir. Dalam pertemuan ke-2 ini, umat datang untuk mendengarkan dan merenungkan Sabda Tuhan dengan tema “Sabda: Pembebas dari Belenggu Ketidakadilan,”  sesuai buku panduan yang telah dibagikan oleh Sie Kerasulan Kitab Suci Gereja Santa Clara dalam sosialisasi BKSN pada Sabtu, 22 Agustus 2026 silam.

Melalui bacaan Injil Lukas 4:16–21, fasilitator mengajak seluruh umat yang hadir  untuk melihat bagaimana Yesus datang membawa kabar baik dan pembebasan bagi orang-orang yang mengalami ketidakadilan, terutama mereka yang miskin, tertindas, dan kurang diperhatikan.

Fasilitator dalam renungan yang dibawakannya juga mengingatkan, bahwa sebagai pengikut Kristus, semua orang juga dipanggil untuk membawa kabar baik melalui tindakan nyata. Umat diingatkan untuk berlaku adil kepada siapa pun, tidak membeda-bedakan, dan mau peduli kepada mereka yang membutuhkan perhatian. Umat Petrus 7  juga disadarkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari usaha menghadirkan keadilan, karena kerusakan lingkungan juga dapat berdampak besar bagi mereka yang miskin dan rentan.

Melalui pertemuan ini, umat semakin menyadari bahwa Sabda Tuhan tidak cukup hanya didengarkan, tetapi perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Seluruh umat diajak untuk menjadi pembawa kabar baik melalui perkataan dan tindakan sederhana, sehingga orang-orang di sekitarnya dapat merasakan kasih, kepedulian, dan keadilan yang diajarkan Kristus.

Suasana pertemuan cukup santai namun serius. Tuan rumah menyediakan tikar dan karpet untuk duduk lesehan secara melingkar, sehingga mendukung suasana akrab satu sama lain. Anak-anak yang hadir juga turut mendengarkan dan mengikuti renungan-renungan dengan sungguh-sungguh. Dengan pertemuan BKSN ke-2 ini, umat Petrus 7 berkomitmen akan semakin saling peduli dan semakin berperilaku adil baik di dalam keluarga, tempat bekerja, gereja maupun masyarakat.

Martinus Suyatno (Ketua Lingkungan Petrus 7)

]]>
https://gerejasantaclara.or.id/bksn-lingkungan-lingkungan-petrus-7-makin-peduli-dan-adil/feed/ 0
PRA RAKA 2026 : Penyusunan Prokar Yang Menghasilkan Buah https://gerejasantaclara.or.id/pra-raka-2026-penyusunan-prokar-yang-menghasilkan-buah/ https://gerejasantaclara.or.id/pra-raka-2026-penyusunan-prokar-yang-menghasilkan-buah/#respond Tue, 01 Sep 2026 09:15:35 +0000 https://gerejasantaclara.or.id/?p=7904 Pra Rapat Karya (PRA RAKA) 2026 Gereja Santa Clara Paroki Bekasi Utara diselenggarakan Minggu, 30 Agustus 2026 dan diprakarsai oleh Bidang Perencanaan dan Evaluasi (PE). Kegiatan ini  bertempat di Aula Fransiskus GKP Gereja Santa Clara, dimulai pukul 10.30 WIB. Sekitar 75 anggota Dewan Paroki Pleno hadir. Terdiri dari  Pastor Kaprilius Sitepu, OFM Capusin,  Pastor Ramses Nainggolan, OFM Capusin, Anggota DPH, Pengurus Inti Seksi, dan Ketua Wilayah.  

Setelah dibuka dengan doa  pembukaan dan lagu pembuka, acara dilanjutkan dengan sesi pengenalan anggota DPH Paroki Bekasi Utara, dipandu oleh Sekretaris 3 DPH Stevanus Agusta. Dalam kesempatan ini kembali diingatkan dan dijelaskan koordinator bidang pendampingan, pastor moderator dan tugasnya masing-masing.

Belajar dari Evaluasi Prokar 2026

Kemudian Koordinator Bidang Perencanaan dan Evaluasi Dona Celerina menjelaskan maksud dan tujuaan Pra Raka yang merupakan persiapan menuju Rapat Karya (RAKA) 2026 yang akan dilaksanakan pada pertengahan Oktober 2026. Bidang Perencanaan dan Evaluasi juga menyampaikan hasil pencapaian, refleksi, dan pembelajaran Program Karya 2026 sebagai dasar penyusunan karya pastoral 2027. Hingga Agustus 2026, dari 496 program karya, sebanyak 323 program atau 65,12% telah menyelesaikan LPJ dan diverifikasi keuangan. Sedangkan  217 program atau 43,75% masih dalam proses atau belum terlaksana.

Evaluasi menunjukkan adanya perbedaan capaian antar perangkat karya serta perlunya pendampingan khusus, terutama dalam penyelesaian pelaporan kegiatan di lingkungan. Di sisi lain, sebanyak 84% perangkat karya dinilai programnya telah cukup selaras dan sangat selaras dengan tugas pelayanan. Namun masih terdapat tantangan berupa kejelasan tupoksi, masa transisi kepengurusan, monitoring, kaderisasi, serta kegiatan yang masih bersifat administratif.

Hasil refleksi juga menunjukkan bahwa keberhasilan pelayanan tidak semata-mata ditentukan oleh anggaran, melainkan oleh arah yang jelas, dukungan, komunikasi, kolaborasi, dan kualitas relasi pelayanan. Berbagai kendala yang ditemukan meliputi koordinasi, benturan jadwal, keterbatasan jumlah pelayan dan sumber dana, kejelasan peran dan alur kerja, serta proses administrasi dan LPJ. Perangkat karya mengharapkan penguatan kolaborasi, penambahan SDM, pendampingan DPH, sarana-prasarana, monitoring dan evaluasi, pelatihan kompetensi, serta komunikasi yang lebih efektif.

Digitalisasi melalui SAPA juga dinilai telah diterima dengan baik dan perlu terus diperkuat melalui notifikasi real-time, tutorial, pelatihan pengguna, penyederhanaan LPJ, integrasi sistem, serta monitoring dan analisis. Pembelajaran dari 2026 kemudian menjadi pijakan untuk menyusun Program Karya 2027 yang lebih selaras dengan visi dan misi paroki, terintegrasi, kolaboratif, realistis terhadap sumber daya, memiliki peran dan akuntabilitas yang jelas, serta berorientasi pada kaderisasi dan dampak nyata bagi umat.

Apresiasi bagi Perangkat Karya

Dalam rangka mengapresiasi capaian Program Karya (Prokar) Semester I 2026, Gereja Santa Clara Paroki Bekasi Utara menegaskan bahwa setiap karya pelayanan memiliki buah dan perannya masing-masing dalam kehidupan menggereja. Sejumlah perangkat karya dinilai menghasilkan “buah karya berlimpah”, yakni Bendahara DPH, Sie Liturgi, dan Sie Katekese.  Sementara Sie PSE, Sie ASAK, dan Sekretaris DPH menjadi “buah karya bertumbuh” yang harus terus dikembangkan. Sie HAAK, Paguyuban LANSIA, Sie Kesehatan, Kekaryawanan, WPSC, Sie Litbang, dan Sie Panggilan diapresiasi sebagai karya yang “sigap dalam setiap perkara.”

Sedangkan Komunitas Kerahiman Ilahi, Sie Santo Yusup, dan Legio Maria menunjukkan semangat “setia dalam perkara kecil.” Apresiasi juga diberikan kepada SKK dan Sie Pekad sebagai “pelita pelayanan”, sedangkan Manajemen Building, Sie Kepemudaan, Sie KKS, Sie Komsos, Sie Pendidikan, PDPKK, K3, Sie Keadilan Perdamaian, Sie PE, dan Tim IT Paroki sebagai “benih pelayanan” yang terus bertumbuh.”

Pada tingkat lingkungan, Santa Clara juga memberikan perhatian terhadap karya prioritas, yaitu Lingkungan Chaterina de Siena 3 dalam kategori Lingkungan Sigap Karya Prioritas.  Lingkungan Padre Pio 1, Paulus 3, Petrus 3, Petrus 5, Thomas Aquino 4, Yohanes Pemandi 1, dan Yohanes Pemandi 4 dalam kategori Lingkungan Setia Karya Prioritas. Semangat apresiasi tersebut dirangkum dalam pesan bahwa yang dihargai bukan hanya banyaknya kegiatan, tetapi terutama kesetiaan dalam menghadirkan pelayanan.

Sebagai bagian dari upaya mendukung karya dan pemberdayaan umat, turut diperkenalkan Voucher UMKM Santa Clara senilai Rp5.000 dan Rp10.000 yang berlaku untuk pembelian produk UMKM Gereja Santa Clara.  Dengan mendukung UMKM, berarti mendukung sesama dan membangun komunitas. Seluruh gerakan ini menjadi wujud ajakan untuk terus bertumbuh dalam iman, berbagi dan peduli, serta berkarya dalam kasih.

Tahun Ekaristi 2027

Memasuki proses RAKA pertengahan Oktober 2026, Paroki Bekasi Utara, Gereja Santa Clara, diajak untuk melihat perjalanan karya pastoral selama 2026 dengan sikap bersyukur, berefleksi, belajar, dan terus bertumbuh. Dalam pesannya, Pastor Kepala Paroki Kaprilius Sitepu, OFM Capusin, menegaskan bahwa berbagai capaian pelayanan selama Semester I 2026 menjadi modal penting bagi paroki untuk melangkah ke tahun berikutnya. Berbagai program telah berjalan dan memberikan dampak bagi umat, didukung semangat kolaborasi, pendampingan DPH, tata kelola pelayanan yang semakin baik, penerapan SAPA dalam administrasi, serta persiapan peningkatan kualitas perencanaan melalui SiClar Budgeting System.

Meski demikian, evaluasi juga mengingatkan adanya tantangan, khususnya dalam mewujudkan pertobatan ekologis sebagai kebiasaan hidup sehari-hari. Memasuki Tahun Ekaristi 2027, seluruh karya pastoral diarahkan untuk semakin berpusat pada Ekaristi sebagai sumber dan puncak kehidupan iman. Arah ini diwujudkan melalui tiga gerakan utama, yakni formasi dan edukasi, perayaan dan liturgi, serta solidaritas dan sosial. Seluruh bidang karya, seksi, kategorial, paguyuban, lingkungan, dan wilayah diharapkan bergerak dalam semangat yang sama.

Dalam penyusunan Program Karya 2027, setiap perangkat karya juga diajak menghayati empat gerak Ekaristi—Diambil, Diberkati, Dipecahkan, dan Dibagikan—sehingga program yang dirancang tidak berhenti sebagai agenda kegiatan, tetapi sungguh menjadi wujud iman yang dihidupi, menghasilkan buah, dan dibagikan sebagai berkat bagi umat serta sesama.

Membangun Peradaban Kasih

Paroki Bekasi Utara mengajak umat membangun “Peradaban Kasih” melalui kesetiaan dalam tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara tekun dan konsisten. Dalam refleksi yang disampaikan Pastor Ramses Nainggolan, OFM Capusin perjalanan ARDAS KAJ 2026 menjadi pijakan untuk menyongsong Tahun Ekaristi 2027, dengan mengajak umat meninggalkan “Sindrom Babel” yang menempatkan ego, efisiensi, dan keuntungan sebagai pusat kehidupan, dan memilih “Jalan Nehemia” yang mengutamakan doa, relasi, keterlibatan komunitas, serta kepedulian terhadap mereka yang terpinggirkan.

Ekaristi ditegaskan bukan sekadar perayaan di altar, melainkan sumber kekuatan untuk membawa kasih Kristus ke tengah kehidupan sehari-hari, dengan istilah “dari Altar menuju Pasar.” Karena itu, iman diwujudkan melalui integritas, kepedulian terhadap kelompok rentan, pelayanan sosial, serta keterlibatan aktif di tengah masyarakat. Semangat tersebut tercermin dalam berbagai pelayanan nyata, seperti Atma Brata di Cilincing dan Komunitas ALMA yang mendampingi mereka yang miskin, sakit, terlupakan, disabilitas, dan yatim piatu. Melalui Tahun Ekaristi 2027, umat diajak menjadi “Roti yang Terbagi” untuk menghadirkan Kristus, memulihkan martabat manusia, dan menjadikan setiap tindakan kasih sebagai wujud iman yang hidup serta langkah nyata membangun Peradaban Kasih.

Tiga Arah Strategi Tahun Ekaristi

Selanjutnya Wakil DPH Errick Iskandar menyampaikan bahwa Dekenat Bekasi mengusung tema “Ekaristi: Daya Ilahi yang Mengobarkan Semangat Evangelisasi” dengan menempatkan Ekaristi sebagai sumber penghayatan iman sekaligus daya untuk melakukan transformasi dan pelayanan nyata. Arah strategis tersebut diwujudkan melalui tiga Tim Ekaristi, yakni Tim Ekaristi Formasi dan Edukasi (TEFE), Tim Ekaristi Perayaan dan Liturgi (TEPL), serta Tim Ekaristi Solidaritas Sosial (TESS). Melalui TEFE, umat diajak semakin memahami dan mencintai Ekaristi melalui program Katekese Ekaristi 3 Menit di Paroki (K3M) dan Katekese Ekaristi di Lingkungan (KEL), dengan sasaran meningkatnya kehadiran umat dalam perayaan Ekaristi mingguan. Sementara itu, TEPL menggerakkan penghayatan Ekaristi melalui Kongres Ekaristi Dekenat Bekasi yang melibatkan perwakilan umat dari seluruh paroki serta Misa Keluarga di Lingkungan sebagai ungkapan syukur dan kebersamaan.

Dimensi transformasi diwujudkan melalui TESS lewat gerakan “Dari Altar untuk Sesama, Dipecah untuk Berbelarasa”, baik di tingkat paroki maupun lingkungan, dengan perhatian khusus pada anak-anak yang mengalami kesulitan pendidikan melalui ASAK dan kaum lansia yang mengalami kesepian melalui pelayanan Komunitas Adiyuswo dan PSE. Dengan target seluruh paroki terlibat dalam Kongres Ekaristi, pelaksanaan misa keluarga di lingkungan, serta sedikitnya 80 persen lingkungan menjalankan aksi belarasa, Dekenat Bekasi mengajak umat membawa rahmat Ekaristi keluar dari altar menjadi kepedulian dan tindakan nyata bagi sesama sepanjang 2027 nanti.

Menyusun Agenda Paroki yang Sinergis

Sekretaris 1 dan 2 DPH Christina Monica dan Agung Nugroho mengingatkan sekaligus menjelaskan, bahwa Dewan Pastoral Harian (DPH) Paroki Bekasi Utara menyiapkan Master Plan Agenda Paroki 2027 sebagai langkah untuk menyatukan perencanaan dan koordinasi seluruh perangkat karya. Penyusunan agenda ini berangkat dari evaluasi 2026 yang menemukan sejumlah tantangan, seperti benturan jadwal, keterlambatan informasi, serta kegiatan yang masih berjalan sendiri-sendiri. Untuk itu, Agenda Utama Paroki 2027 disusun lebih awal sebagai “anchor” bersama yang mencakup agenda liturgi, kepanitiaan besar seperti Pekan Suci, HUT Paroki ke-29 dan Natal, serta agenda kaderisasi dan pelantikan pengurus seksi periode 2027–2030.

Dengan melihat keseluruhan kalender dalam satu gambaran, setiap bidang, seksi, kategorial, paguyuban, wilayah, dan lingkungan diharapkan dapat menyusun program secara lebih realistis, mengatur beban pelayanan dan kebutuhan SDM, menghindari benturan jadwal, serta menemukan peluang kolaborasi. Master Plan ini bukan sekadar kalender kegiatan, melainkan alat koordinasi untuk membangun satu gambaran bersama, menghasilkan perencanaan yang lebih baik, memperkuat koordinasi, dan mewujudkan pelayanan Paroki yang lebih terintegrasi. Setelah agenda utama ditetapkan, seluruh perangkat karya diharapkan menyesuaikan programnya, mengantisipasi  periode pelayanan yang padat, serta membangun ritme rapat dan koordinasi yang jelas melalui sinkronisasi Kalender Rapat Paroki 2027. Sehingga seluruh karya dapat bergerak bersama sebagai satu Paroki.

Dalam rangka mempersiapkan pelayanan Paroki tahun 2027, dilakukan sinkronisasi Kalender Rapat Paroki dengan menekankan pola perencanaan yang bersifat bottom up, partisipatif, dan sinodal. Sinkronisasi ini menjadi bagian penting untuk memastikan proses perencanaan dan koordinasi antar perangkat karya agar berjalan selaras, sehingga berbagai agenda pelayanan dapat disusun secara terarah dan melibatkan unsur-unsur Paroki. Dengan pendekatan tersebut, kalender rapat diharapkan tidak sekadar menjadi jadwal pertemuan, tetapi menjadi sarana untuk membangun komunikasi, menyatukan langkah, serta mendukung proses perencanaan pastoral yang berjalan dari bawah, melibatkan umat, dan mengedepankan semangat berjalan bersama dalam pelayanan Paroki sepanjang 2027.

Sistem Informasi Santa Clara

Dalam kegiatan ini juga diperkenalkan sebuah sistem budgeting yaitu Sistem Informasi St. Clara ( SICLAR),yang memudahkan para pengurus lingkungan dan wilayah, pengurus seksi, DPH, dan Pastor untuk merencanakan, mengajukan, mengontrol, membuat laporan setiap anggaran setiap acara, agar mudah di kontrol oleh masing-masing pengguna. Hal ini dijelaskan pada kesempatan ini oleh Bendahara Paroki FX Wisnu Ardianto.

Dan untuk sesi terakhir Erga dari Sie Perencanaan dan Evaluasi menjelakan untuk mendorong perubahan pola kerja dari program yang berjalan sendiri-sendiri menuju pelayanan yang lebih terarah, terintegrasi, dan berdampak nyata bagi umat dan masyarakat. Proses penyusunan program menempatkan koordinasi sebagai kunci, dengan melibatkan seksi dan kategorial sejak awal, kemudian mengintegrasikan rencana bersama Korbid, sebelum direkap dan disahkan oleh PE dan DPH. Mekanisme ini diharapkan membuat keterlibatan Korbid menjadi lebih aktif, integrasi berlangsung sejak tahap perencanaan, serta pemanfaatan sumber daya manusia, waktu, dan anggaran menjadi lebih optimal.

Rangkaian penyusunan Program Karya 2027 dimulai dari Pra-RAKA pada 30 Agustus 2026, dilanjutkan penyusunan rencana Prokar dan SiClar, review Korbid, penguncian SiClar, review PE bersama Sekretaris dan Bendahara, Rapat Terpadu DPH akhir September 2026, input SAPA, RAKA pleno pada Oktober 2026, final check, hingga review KAJ, tanggapan KAJ, dan finalisasi pada 31 Desember 2026. Seluruh proses tersebut diarahkan agar pengalaman 2026 menjadi bahan evaluasi dan pembelajaran untuk menghadirkan karya pada 2027 yang bukan sekadar lebih banyak, tetapi semakin berarti, terarah, terintegrasi, dan memberikan dampak yang lebih besar bagi umat.

Liputan : Nerius Rio Prawastyo

Photo    : Antonio Arya

]]>
https://gerejasantaclara.or.id/pra-raka-2026-penyusunan-prokar-yang-menghasilkan-buah/feed/ 0
GATHERING PRODIAKON : Merajut Kebersamaan dalam Pelayanan https://gerejasantaclara.or.id/gathering-prodiakon-merajut-kebersamaan-dalam-pelayanan/ https://gerejasantaclara.or.id/gathering-prodiakon-merajut-kebersamaan-dalam-pelayanan/#respond Tue, 25 Aug 2026 22:16:48 +0000 https://gerejasantaclara.or.id/?p=7879 Sebanyak 95 orang dari 106 prodiakon Gereja Santa Clara Paroki Bekasi Utara dengan seragam warna merah, berkumpul di basement pada Selasa, 25 Agustus 2026 pukul 05.30. Mereka mengisi absensi, berkumpul sesuai pembagian kendaraan, membagi nasi box untuk sarapan dan berdoa bersama, sebelum akhirnya berangkat ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dalam 16 iringan mobil pribadi.

Anjungan Kalimantan Barat dipilih untuk menggelar acara karena tempatnya cukup luas dan mudah diakses dari tempat parkir dengan berjalan kaki sejauh 1 km. Wajah-wajah mereka tampak berseri-seri karena bisa berkumpul untuk mengikuti acara yang sifatnya santai.

Acara diawali dengan sambutan Ketua Panitia Ibu Fience Hamdani dan dilanjutkan dengan ibadat sabda yang dipimpin Bapak Florentinus Mudji dan Bapak Martinus Martono. Dalam kesempatan itu Ketua Sub Sie Prodiakon Bapak Pontianus Gianto dan pengurus inti juga menyampaikan latar belakang diselenggarakannya acara, yaitu supaya di antara prodiakon semakin saling kenal, saling akrab, saling dukung dan saling kerjasama dalam pelayanan. Usai ibadat seluruh peserta diajak menari Gemu Famire dalam lingkaran besar di halaman anjungan.

Kegiatan dilanjutkan dengan dinamika kelompok. Seluruh peserta dibagi ke dalam 9 kelompok untuk melakukan beberapa kerjasama dalam diskusi, simulasi, permainan peran dan permainan. Panitia mempersiapkan dinamika kelompok ini agar melatih dan membiasakan adanya koordinasi, komunikasi, dan kerjasama antar prodiakon. Sehingga ketika bertugas sebagai pelayan altar, kebiasaan itu selalu dibawa dan diterapkan.

Dinamika kelompok pertama adalah mendiskusikan tentang persiapan rohani dan jasmani serta sikap prodiakon sebelum dan saat bertugas. Hasil diskusi ditulis dalam kertas karton dan dipresentasikan ke depan peserta lainnya. Selanjutnya tiap kelompok diberi beberapa gulung kertas minyak, gunting dan selotip untuk permainan peran dan simulasi sebagai prodiakon yang bertugas. Tiap kelompok menentukan salah satu anggotanya untuk didandani sebagai prodiakon dengan kertas minyak tersebut. Di akhir sesi presentasi, pengurus prodiakon membuat simulasi tentang sikap prodiakon saat berjalan dalam perarakan dan saat membagikan komuni. Dari kegiatan ini, seluruh peserta saling belajar tentang persiapan rohani dan jasmani sebelum bertugas dan bagaimana sikap saat bertugas.

Acara kebersamaan lainnya adalah makan siang bersama, games kelompok berhadiah dan pembagian doorprize. Semua peserta merasa sangat bergembira mengikutinya. Tampak dalam tawa lepas dan canda ria di antara mereka. Pukul 15.00 acara ditutup dengan doa dan kembali ke Bekasi dalam iring-iringan mobil kembali.

Rini Giri

]]>
https://gerejasantaclara.or.id/gathering-prodiakon-merajut-kebersamaan-dalam-pelayanan/feed/ 0
Lomba Koor HUT Ke-28 : Gita Sang Surya Berkumandang https://gerejasantaclara.or.id/lomba-koor-hut-ke-28-gita-sang-surya-berkumandang/ https://gerejasantaclara.or.id/lomba-koor-hut-ke-28-gita-sang-surya-berkumandang/#respond Sun, 16 Aug 2026 02:56:00 +0000 https://gerejasantaclara.or.id/?p=7848

Semarak peringatan Hari Ulang Tahun Gereja Santa Clara Paroki Bekasi Utara ke-28 semakin meriah dengan digelarnya  Lomba Paduan Suara Antar Wilayah. Acara yang diinisiasi  oleh Panitia HUT dan Sub Sie Pasdior Seksi Liturgi ini berlangsung di  dalam Gereja Santa Clara pada hari Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 08.00-13.00.

Lomba Paduan Suara atau Koor antar  Wilayah ini dibuka  dengan doa pembukaan oleh perwakilan panita HUT.  Setelah itu koor Misdinar membuka lomba koor dengan menampilkan Mars Putra-Putri Altar Dekenat Bekasi dan lagu daerah Sayang-Sayang Sipatokaang. Secara resmi lomba paduan suara ini dibuka  oleh Romo Kaprilius Sitepu OFM Cap selaku Pastor Kepala Paroki Bekasi Utara dengan pemukulan gong. Dalam sambutannya, Romo Kapri mengapresiasi antusiasme umat dan mengingatkan bahwa lomba ini adalah sarana memuliakan Tuhan dan mempererat persaudaraan.

“Bernyanyi adalah berdoa dua kali. Mari kita satukan suara untuk memuji Tuhan dan membangun kebersamaan antar wilayah,” pesan Romo Kapri.

Lomba ini diikuti oleh 9 wilayah dari 13 wilayah yang ada di Paroki Santa Clara. Setiap paduan suara membawakan 2 lagu, terdiri dari lagu wajib dan 1 lagu pilihan bernuansa Rohani yang semua liriknya ditulis oleh Santo Fransiskus Asisi. Penilaian juri meliputi kekompakan, teknik vokal, penghayatan, dan penjiwaan lagu Rohani tersebut.

Lagu Gita Sang Surya ditetapkan sebagai lagu wajib. Sedangkan Lagu Tuhan Jadikanlah Aku Pembawa Damai dan Ajakan Santo Fransiskus menjadi lagu pilihan. Romo Kapri menjelaskan kenapa ketiga lagu yang selama ini familiar di kalangan keluarga besar Fransiskan itu yang dipilih. Yang pertama, lagu-lagu ini  sangat sesuai dengan Tema ARDAS KAJ 2026 Keutuhan Alam Ciptaan. Kedua, pada tahun 2026 ini merupakan Tahun Yubileum Santo Fransiskus Asisi sehingga tiga lagu yang liriknya ditulis oleh Santo Fransiskus ini sangat cocok untuk mengenang dan merayakan 800 tahun Gereja Katolik memperingati wafatnya Santo yang merupakan bapak dari ordo-ordo Fransiskan tersebut. Dan ketiga, nama pelindung paroki Adalah Santa Clara Asisi yang merupakan pengikut setia Fransiskus dan pendiri ordo kedua Fransiskan yaitu Ordo Suster-suster Claris.

Setelah 9 wilayah tampil pada lomba koor ini, para juri rehat 30 menit di ruang khusus untuk menentukan siapa pemenangnya. Waktu 30 menit digunakan untuk menampilkan paduan suara Flobamorata dan sedikit interaksi MC dengan perwakilan wilayah yang mengikuti lomba. Para peserta diminta menceritakan proses latihan dan persiapan mereka. Seluruh peserta lomba yang kurang lebih berjumlah 200 orang juga diminta maju ke depan altar untuk menyanyikan Lagu Gita Sang Surya, Hymne Santa Clara, Mars Santa Clara dan Indonesia Raya bersama-sama dipandu dirijen dari Wilayah Fidelis yaitu Elisabeth. Setelah melalui penilaian yang ketat, dewan juri menetapkan para pemenang.

Pengumuman para pemenang dilakukan oleh Onggo Lukito seorang pencipta lagu liturgi yang merupakan salah satu juri. Onggo Lukito juga mengaransemen Lagu Tuhan Jadikanlah Aku Pembawa Damai yang menjadi lagu pilihan. Juri lainnya Adalah Hanna Pangestu dan Natalis Natalianto dari Pusat Musik Liturgi Komisi Liturgi KAJ. Sebelum pengumuman pemenang, ketiga dewan juri juga memberikan evaluasi dan apresiasi. Para pemenang Adalah : Juara 1 Wilayah Agnes , Juara 2 Wilayah Bunda Teresha , dan Juara 3 Wilayah Fidelis.

Siang itu Lagu Gita Sang Surya yang agung dan megah, yang berisi pujian kepada Allah yang telah menciptakan bumi, langit, laut dan segala isinya, berkumandang 10 kali dibawakan oleh 9 peserta saat penjurian dan oleh 200 peserta dalam acara penutup. Lewat lagu itu Santo Fransiskus Asisi mengajak kita untuk mengagumi Allah melalui ciptaan-Nya.

Tuti Cahaya

]]>
https://gerejasantaclara.or.id/lomba-koor-hut-ke-28-gita-sang-surya-berkumandang/feed/ 0
MISA HARI RAYA SANTA CLARA : Tetaplah Melekat Pada Pokok Anggur https://gerejasantaclara.or.id/misa-hari-raya-santa-clara-tetaplah-melekat-pada-pokok-anggur/ https://gerejasantaclara.or.id/misa-hari-raya-santa-clara-tetaplah-melekat-pada-pokok-anggur/#respond Wed, 12 Aug 2026 14:34:00 +0000 https://gerejasantaclara.or.id/?p=7829 Misa Hari Raya Santa Clara di Gereja Santa Clara Paroki Bekasi Utara merupakan puncak untuk menghormati seorang perempuan suci dalam Gereja Katolik, yang meninggalkan kemewahan untuk hidup dalam kesederhanaan dan kasih kristus. Kini namanya diabadikan sebagai nama pelindung gereja di Paroki Bekasi Utara.

Ribuan pelita pun tidak mampu menyamai cahaya dari satu kehidupan yang dipersembahkan sepenuhnya kepada Kristus. Itulah pesan yang bergema dalam misa Hari Raya Santa Clara yang dihadiri sekitar 290 umat pada Selasa (11/08/2026). Acara puncak dari novena sembilan hari berturut-turut (2-10 Agustus) ini juga menjadi perayaan istimewa dalam rangka HUT Paroki Bekasi Utara ke-28. Misa ini dipimpin secara konselebrasi oleh Rm. Kaprilus Sitepu, OFM Cap dan Rm. Ramses Nainggolan OFM Cap, di Gereja Santa Clara, Paroki Bekasi Utara.

Dalam homilinya, Rm. Kaprilius Sitepu, OFM Cap, mengajak seluruh umat untuk merenungkan makna mendalam dari teladan Santa Clara. “Dalam hal ini, sejarah-sejarah kita bisa saja menjadi budak kesibukan mengejar kesuksesan dunia. Tetapi semuanya itu bisa dihilangkan ketika kita bekerja untuk Yesus, ketika kita tinggal bersama-Nya,” ujar romo yang mememberikan homili dalam misa tersebut.

Santa Clara, seorang tokoh wanita Katolik dari abad pertengahan, menjadi inspirasi bagi umat dalam menghadapi berbagai tantangan hidup modern. Meskipun memiliki kesempatan untuk menikmati kehidupan yang mewah, nyaman dan berkecukupan, ia memilih untuk meninggalkan segalanya ketika menemukan Kristus sebagai pusat hidupnya.

“Apa yang terus kita pandang akan menentukan hidup kita,” lanjut Romo Kaprilius. Beliau menjelaskan bahwa jika terus memandang kesalahan orang lain, kita akan menjadi pintar mengkritik. Namun jika pandangan kita selalu tertuju pada Kristus, perlahan-lahan hati kita akan dibentuk menjadi seperti hati Kristus yang sederhana, murah hati, dan setia.

“Tetaplah berada dalam Aku. Hanya dengan tetap terhubung pada Kristus, kita dapat menghasilkan buah-buah kehidupan yang berlimpah.” 

Romo juga menyentuh tema pemangkasan yang seringkali dihadapi umat dalam perjalanan rohani mereka. “Ketika Tuhan memangkas kita melalui kegagalan atau konflik, itu bukti cinta-Nya. Ia ingin kita berbuah lebih banyak lagi,” kata beliau dengan hangat.

Metafora pohon anggur yang diambil dari Yohanes 15:4-10 menjadi pesan utama dalam homili tersebut. Romo menekankan bahwa kita adalah ranting-ranting yang harus tetap berada dalam pokok anggur, yaitu Kristus. Sebagai ranting, kita tidak akan pernah bisa menjadi pokok anggur, namun justru inilah keindahan dari ketergantungan kita kepada sumber kehidupan sejati.

“Meskipun menghadapi kesulitan, masalah, tantangan, keberhasilan, pujian, dan kesuksesan, tetaplah berada dalam Kristus agar tidak terpuruk jauh atau menjadi sombong,” pesannya di akhir homily yang bergema dalam gereja.

Refleksi mendalam juga disampaikan kepada umat untuk merenungkan peran mereka sebagai anggota gereja, khususnya dalam konteks HUT Paroki ke-28. “Apakah program karya paroki sudah benar-benar menyentuh dan melayani umat? Apakah benar-benar bermanfaat bagi semua?” Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi bahan renungan bagi setiap hadirin.

Suasana kebersamaan yang hangat tercermin dari antusiasme umat dalam menyerbu berbagai hidangan snack yang disediakan paroki setelah misa berakhir. Rebusan umbi-umbian yang sederhana namun lezat langsung habis, menggambarkan kesederhanaan dan berbagi yang menjadi nilai inti komunitas paroki.

Gereja universal memperingati Santa Clara dari Asisi dengan tingkatan perayaan Peringatan Wajib. Namun seluruh persaudaraan Fransiskan di seluruh dunia termasuk Gereja Santa Clara yang menggunakan namanya sebagai nama pelindung dan menghidupi spiritualismenya, boleh merayakan dengan tingkatan hari raya.

Perayaan Hari Raya Santa Clara tahun ini meninggalkan kesan mendalam bagi setiap umat, mengingatkan kita semua bahwa kehidupan sejati bukan terletak pada apa yang kita miliki, melainkan pada derajat pemberian diri kita kepada Kristus dan sesama.

Liputan : Nerius Rio Prawastyo

Photografer : Denic

]]>
https://gerejasantaclara.or.id/misa-hari-raya-santa-clara-tetaplah-melekat-pada-pokok-anggur/feed/ 0
Kunjungan Pastoral Lingkungan YP 3 : Diajak Rendah Hati Seperti Santo Bonaventura https://gerejasantaclara.or.id/kunjungan-pastoral-lingkungan-yp-3-diajak-rendah-hati-seperti-santo-bonaventura/ https://gerejasantaclara.or.id/kunjungan-pastoral-lingkungan-yp-3-diajak-rendah-hati-seperti-santo-bonaventura/#respond Thu, 16 Jul 2026 18:30:00 +0000 https://gerejasantaclara.or.id/?p=7788 Kali ini lingkungan Yohanes Pemandi 3 (YP 3) kedatangan tamu spesial, yakni  Pastor Paroki Bekasi Utara Romo Kaprilius Sitepu OFM Capusin. Kunjungan pastoral kali ini diisi dengan perayaan misa dan ramah-tamah. Misa tersebut dilaksanakan pada hari Rabu, 15 Juli 2026 di salah satu rumah umat. Misa dihadiri oleh 35 umat, terdiri dari lansia, dewasa, kaum muda dan anak-anak.

Image 3

Dalam kesempatan itu Romo Kapri membahas mengenai kerendahan hati, seperti yang diteladankan oleh Santo Bonaventura, yang tanggal peringatannya bertepatan dengan Misa KuPas (Kunjungan Pastoral) tersebut. Santo Bonaventura dikenal karena kepintarannya, oleh karena itu disebut sebagai doktor malaikat (Seraphic Doctor). Walaupun pintar, namun tetap rendah hati dan membuatnya tetap mengutamakan rencana Tuhan dalam hidupnya. Jadi umat diajak untuk tetap rendah hati walaupun memiliki segala sesuatu dan kepintaran dalam dirinya, dan selalu bersyukur dan berterima kasih saat memulai doa. Bukan hanya mengungkapkan permohonan saja kepada Tuhan.

Image 4

Demikian juga dalam hidup, kita diajak untuk lebih mendengarkan orang lain daripada menyalahkan atau mengkritiknya. Jangan mengutamakan diri-sendiri, namun tetap rendah hati. Yesus tidak menolak orang pintar, namun janganlah kepintaran itu membuat kita menjadi orang sombong dan menolak segala sesuatu yang membangun. Yesus sendiri malah memuji orang kecil karena apapun yang mereka miliki, tidak membuat mereka sombong. Hati yang mengenal Tuhan adalah hati yang mau melayani, maka haruslah kita belajar agar semakin mengenal dan mencintai Tuhan.

Sapaan Romo Kapri dalam homilinya ini sungguh menyentuh hati umat Lingkungan Yohanes Pemandi 3 dan menumbuhkan semangat untuk lebih saling menghargai, memahami, dan mengasihi. Sebab sebagai sebuah komunitas, umat lingkungan harus memiliki kerendahan hati agar bisa saling mendengar, membantu dan mendukung. Umat Yohanes Pemandi 3 sangat bersyukur atas kunjungan pastoral yang telah lama mereka nantikan.

Image 5
Image 5

Penulis : Rina (Umat YP 3)

]]>
https://gerejasantaclara.or.id/kunjungan-pastoral-lingkungan-yp-3-diajak-rendah-hati-seperti-santo-bonaventura/feed/ 0
PPADR : Peran Serta Prodiakon Mewujudkan Gereja yang Aman https://gerejasantaclara.or.id/ppadr-peran-serta-prodiakon-mewujudkan-gereja-yang-aman/ https://gerejasantaclara.or.id/ppadr-peran-serta-prodiakon-mewujudkan-gereja-yang-aman/#respond Sun, 21 Jun 2026 13:45:59 +0000 https://gerejasantaclara.or.id/?p=7715 Sabtu, 20 Juni 2026 di Aula GKP lantai 1 Gereja Santa Clara Paroki Bekasi Utara, hadir sekitar 70 prodiakon untuk mengikuti pertemuan rutin bulanan. Namun kali ini materi yang disampaikan sedikit berbeda. Tim PPADR (Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan) Gereja Santa Clara hadir untuk menyampaikan sosialisasi tentang Protokol Perlindungan, yang telah disusun oleh Tim PPADR Keuskupan Agung Jakarta, kepada para prodiakon. Sebelumnya, seluruh prodiakon Santa Clara telah menandatangani Pakta Integritas PPADR sebagai bentuk dukungan dan ketaatan para prodiakon yang berjumlah 125 orang untuk turut mewujudkan gereja yang aman bagi semua orang.

Keuskupan Agung Jakarta telah merumuskan buku panduan Protokol Perlindungan ini pada tahun 2021 dan disosialisasikan ke dekanat-dekenat pada tahun 2022. Buku panduan tersebut telah direvisi pada tahun 2026. Selama 3 tahun hingga 2025, KAJ secara terus-menerus mengadakan pelatihan-pelatihan mengenai mengenal, mencegah, dan bagaimana menangani pelecehan dan kekerasan seksual dalam kehidupan pelayanan gereja. Di paroki-paroki juga mulai dibentuk Satgas PPADR yang diseleksi secara ketat dan mendapatkan SK dari keuskupan.

Di Gereja Santa Clara sendiri juga sudah terbentuk Tim Satgas pada 12 Mei 2023. Dan sudah melaksanakan sosialisasi kepada Prokat DIA (Program Katekese Dini dan Anak), Rekat (Remaja Katolik), dan WPSC (Wanita Paroki Santa Clara) pada 2025. Dan tahun 2026 ini sosialisasi dilaksanakan kepada prodiakon, OMK (Orang Muda Katolik) dan Misdinar. Pengenalan PPADR juga pernah disampaikan dalam Raka/Rapat Karya 2025 dan Sosialisasi TSPB pada 2026.

Dalam kesempatan ini Tri Warmiati selaku anggota Satgas PPADR Santa Clara dan Dosen Psikologi Sosial Unika Atmajaya Jakarta menyampaikan materi tentang “Stop Sexual Harrasment.” Hal penting yang disampaikan adalah bagaimana mengenali, mencegah, mengetahui dampak, dan menangani kasus pelecehan seksual. Dengan memahami hal itu kita menjadi sadar untuk lebih menghargai dan menghormati orang lain serta turut serta menjaga gereja kita terutama anak-anak, orang muda, dan siapa saja yang rentan, agar terhindar dari pelecehan seksual.

Sikap aware inilah yang hendaknya dimiliki oleh para prodiakon untuk turut menjaga agar gereja menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi semua orang untuk berkegiatan. Karena selain sebagai pelayan umat di bidang liturgi, para prodiakon rata-rata juga merupakan pengurus lingkungan. “Hendaknya para prodiakon dan pengurus lingkungan juga memiliki kepedulian pada korban jika terjadi kasus, sebab orientasi kita adalah melindungi korban. Jangan sampai korban mengalami luka kedua kalinya karena kita salahkan atau kita hakimi dengan statement-statement kita,” demikian penjelasan Tri Warmiyati.

Pada sesi kedua, Fransiskus Egun Nofianto, Anggota Satgas PPADR Gereja Santa Clara dan Ketua SKP (Seksi Keadilan dan Perdamaian) memperkenalkan ap aitu PPADR, buku panduan PPADR KAJ, Tim Satgas PPADR Gereja Santa Clara dan alur pelaporan dan penanganan jika terjadi kasus pelecehan seksual di kalangan umat. Romo Ramses Nainggolan OFM Capusin yang turut hadir dalam kegiatan tersebut juga mengajak seluruh prodiakon untuk menyamakan persepsi dan kepeduliannya terhadap standard protokol perlindungan ini. Romo menceritakan bahwa di Eropa protokol ini sudah dilaksanakan dengan sangat ketat. Di Indonesia, yang memiliki budaya sendiri, hendaknya kita juga mulai semakin menghargai dan menghormati sesama kita dengan tidak merendahkan harkat dan martabat mereka.

Sesi ditutup dengan tanya-jawab dan para prodiakon tampak antusias untuk mengetahui lebih lanjut dari Protokol Perlindungan ini karena memang sangat penting bagi Upaya mewujudkan gereja yang aman.

Rini Giri

]]>
https://gerejasantaclara.or.id/ppadr-peran-serta-prodiakon-mewujudkan-gereja-yang-aman/feed/ 0
Wayang Wahyu : Refleksi Ekologis Ketika Keserakahan Membawa Kesusahan. https://gerejasantaclara.or.id/wayang-wahyu-refleksi-ekologis-ketika-keserakahan-membawa-kesusahan/ https://gerejasantaclara.or.id/wayang-wahyu-refleksi-ekologis-ketika-keserakahan-membawa-kesusahan/#respond Sun, 21 Jun 2026 13:42:20 +0000 https://gerejasantaclara.or.id/?p=7707 Sebagai rangkaian perayaan syukur 1 Suro, Paguyuban Ketan Jawi (Keluarga Tanah Jawi) Gereja Santa Clara Paroki Bekasi Utara menyelenggarakan pagelaran Wayang Wahyu bertajuk “Serakah Agawe Susah” pada Jumat. 19 Juni 2026. Gelaran wayang wahyu ini dibawakan oleh dalang Romo Agustinus Handi Setyanto Pr dan dimeriahkan oleh kehadiran sinden Elisa Ocharrus Alasso. 

Dimulai pada pukul 20.15 WIB, setelah Misa Jumat dan Adorasi Sakramen Maha Kudus di gereja selesai,  gelaran wayang wahyu ini dihadiri sekitar 400 orang yang menonton di area parkir Gereja Santa Clara. Menurut Romo Handi, tema “Serakah Agawe Susah” dipilih karena memiliki pesan yang sangat dekat dengan kehidupan manusia saat ini.

Wayang wahyu sendiri merupakan pertunjukkan wayang yang menggabungkan antara seni tradisional wayang kulit dengan ajaran nilai Kristiani. Pertunjukannya tetap memakai format wayang kulit, seperti ada dalang, gamelan Jawa, hingga sinden. Bedanya, cerita yang dibawakan berasal dari Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. 

Dalam gelaran wayang wahyu kali ini, Romo Handi mengangkat kisah Nabi Elia yang berhadapan dengan Raja Ahab dari Kitab 1 Raja-Raja dalam Perjanjian Lama. Dikisahkan, Raja Ahab menginginkan kebun anggur milik Nabot, seorang rakyat biasa di Israel. Karena tidak dapat memilikinya secara sah, Ahab dibantu istrinya, Ratu Izebel, yang kemudian menyusun fitnah hingga Nabot dihukum mati dengan dirajam. 

Kisah ini menjadi gambaran nyata bagaimana keserakahan dapat mendorong seseorang menghalalkan berbagai cara demi memenuhi keinginannya. Pesan kisah tersebut kemudian dikaitkan dengan isu pastoral ekologis yang saat ini menjadi perhatian Gereja. 

Menurut Romo Handi, ketika berbicara tentang kerusakan lingkungan, fokus pertama yang harus direfleksikan adalah perilaku manusia itu sendiri. “Kalau kita bicara soal kelestarian alam, kita bicara keutuhan ciptaan, itu membicarakan siapa sih? Membicarakan manusia,” tuturnya menjelaskan. 

Ia mengatakan, manusia sering kali menjadi aktor utama di balik berbagai bentuk kerusakan alam akibat gaya hidup konsumtif dan sikap yang tidak pernah merasa cukup. Untuk itu, melalui pertunjukan ini, umat diajak melakukan pemeriksaan batin sederhana, apakah sudah bijak mengelola sampah, mengurangi penggunaan plastik, serta memiliki kebiasaan hidup yang lebih ramah lingkungan.

Wayang sebagai Media Pewartaan 

Romo Handi menjelaskan wayang dipilih karena masyarakat Asia memiliki tradisi kuat dalam mendengarkan cerita. Berbeda dari masyarakat Barat yang lebih terbiasa berdiskusi secara konseptual, masyarakat Indonesia lebih mudah memahami pesan melalui kisah dan simbol.

Karena itu, Wayang Wahyu menjadi sarana yang efektif untuk menyampaikan nilai-nilai Kitab Suci dalam bentuk yang lebih mudah dipahami. Menurutnya, pertunjukan wayang mengubah pesan dari sekadar narasi menjadi pengalaman yang dapat dilihat, dirasakan, dan dinikmati bersama.

“Menjadi kesempatan baik untuk bagaimana memahami isi Kitab Suci dengan mudah karena kita mendengarkan cerita. Bahkan di situ ada hiburan, tidak tegang,” tuturnya. Selain itu, untuk menjangkau lebih banyak umat, gelaran wayang wahyu kali ini juga dikisahkan dalam Bahasa Indonesia. Meskipun beberapa kali juga diselingi dengan penggunaan Bahasa Jawa.

Dengan pendekatan tersebut, siapa pun yang hadir diharapkan tetap dapat menangkap pesan dan suasana spiritual yang ingin disampaikan, meskipun tidak memahami seluruh simbol dan bahasa yang digunakan dalam tradisi pewayangan Jawa. 

Gereja dan Budaya Berjalan Bersama 

Pagelaran wayang wahyu ini pun disambut baik oleh Romo Kaprilius Sitepu OFM Capusin sebagai Kepala Paroki. Menurutnya, kegiatan semacam ini mencerminkan cara Gereja memandang budaya, yakni bukan sebagai sesuatu yang harus dihilangkan, melainkan sebagai kekayaan yang perlu dirawat dan diperkaya dengan nilai-nilai Injil.

“Kehadiran Gereja bukan untuk menghilangkan budaya yang sudah hidup di tengah masyarakat. Sebaliknya, Gereja hadir untuk menyempurnakan, memperkaya, dan memberikan nilai yang lebih mendalam pada budaya tersebut,” tutur Romo Kapri. 

Ia menjelaskan, dukungan terhadap pagelaran wayang wahyu tidak hanya didasarkan pada aspek pelestarian budaya atau pertunjukan seni semata. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana untuk menumbuhkan nilai-nilai positif dalam kehidupan umat.

“Di berbagai budaya terdapat nilai-nilai baik yang telah digali dan diwariskan secara turun-temurun. Kehadiran Gereja membantu memperdalam serta memperkaya nilai-nilai tersebut sehingga semakin bermakna bagi kehidupan manusia,” katanya.

Untuk itu, pagelaran Wayang Wahyu tidak hanya menjadi hiburan atau tontonan budaya, melainkan juga sarana pewartaan yang membantu umat semakin mengenal Allah melalui pendekatan yang dekat dengan budaya lokal.

Melalui kegiatan seperti ini pula, Gereja ingin menunjukkan bahwa kekayaan budaya lokal dapat menjadi jembatan yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai iman, mempererat persaudaraan, sekaligus memperkaya pengalaman spiritual umat.

“Kiranya lewat kegiatan ini paguyuban semakin guyub, semakin bersatu, dan mau menunjukkan bahwa kita sebagai paguyuban memperkaya dan memaknai lagi lebih dalam iman kita. Sehingga kegiatan ini membuat kita semakin beriman dan semakin dilimpahi cinta kasih,” ujar Romo Kapri. 

Wayang Wahyu yang Menyentuh Semua Kalangan 

Sebagai salah satu sinden yang terlibat dalam pagelaran Wayang Wahyu “Serakah Agawe Susah”, Elisa Ocharrus Alasso menjelaskan, pertunjukan kali ini dirancang dengan pendekatan yang berbeda dari pementasan wayang pada umumnya. Berbagai unsur musikal, termasuk gending dan lagu-lagu yang dibawakan, disesuaikan agar lebih mudah diterima oleh umat dari beragam latar belakang budaya.

Ia mengatakan, penonton yang hadir tidak hanya berasal dari kalangan masyarakat Jawa. Umat Katolik di Santa Clara berasal dari berbagai daerah di Indonesia, sehingga pertunjukan perlu dikemas agar tetap dapat dinikmati oleh siapa saja. 

Karena itu, selain menggunakan Bahasa Indonesia sebagai jembatan komunikasi, berbagai elemen artistik juga dirancang agar mampu menghadirkan pengalaman yang hangat dan menyentuh, bahkan bagi mereka yang belum pernah menyaksikan wayang sebelumnya.

“Harapan kami, meskipun mungkin tidak memahami seluruh bahasa atau makna setiap bagian cerita, siapa pun yang hadir tetap bisa merasakan kehangatan, kekhusyukan, dan suasana spiritual yang ingin kami bangun melalui pertunjukan ini.” 

Selain membawa pesan iman, Elisa juga berharap pagelaran wayang wahyu dapat menjadi sarana menumbuhkan kecintaan terhadap budaya bangsa. Menurutnya, budaya tradisional sering kali dijauhi karena dianggap kuno atau tidak menarik, padahal di dalamnya tersimpan nilai-nilai yang sangat berharga.

“Jangan langsung menilai budaya itu kuno atau tidak menarik. Cobalah dirasakan terlebih dahulu, baru kemudian dipahami. Budaya adalah kekayaan yang kita miliki. Sangat sayang kalau justru kita sendiri tidak mau mengenal atau mempelajarinya,” tuturnya. 

Menurut Elisa, langkah pertama untuk mencintai budaya adalah berani mendekat dan merasakannya. Dari pengalaman tersebut akan tumbuh ketertarikan yang kemudian berkembang menjadi pemahaman dan kecintaan yang lebih mendalam. 

Upaya Panitia Menghadirkan Suasana Hangat

Panitia dari Paguyupan Ketan Jawi berusaha semaksimal mungkin dalam menyambut umat dan para tamu yang hadir, agar suasana hangat dan menyenangkan bisa dirasakan. Jauh-jauh hari panitia telah berkoordinasi dengan Tim K3 (Keamanan, Ketertiban dan Keparkiran) mengenai lokasi parkir agar umat yang hadir tidak kesulitan memarkir kendaraan. Panitia juga menyiapkan tempat transit khusus bagi dalang, sinden dan pengrawit sehingga mereka merasa disambut dengan baik.

Among tamu berjumlah 25 orang dengan berpakaian nuansa Jawa Tengah juga disiapkan di pintu masuk areal pagelaran wayang agar para penonton dihargai kehadirannya. Para penonton juga dipersilahkan mengisi buku tamu seperti halnya jika menghadiri suatu perhelatan penting. Untuk menghangatkan suasana, panitia juga menyiapkan teh panas, kopi, kudapan berupa rebus-rebusan, bubur ayam dan kembang tahu jahe yang bisa dinikmati para penonton secara cuma-cuma. UMKM Gereja Santa Clara juga menggelar lapak untuk memperkaya pilihan camilan bagi para penonton.

Dalam sesi pertunjukan “Goro-Goro” saat muncul tokoh wayang Aman dan Amin, para sinden juga turun panggung untuk menyapa para penonton dengan bernyanyi dan berjoget bersama. Suasana malam itu sangat hangat dan menyenangkan. Bahkan tanpa terasa pagelaran baru selesai pada pukul 24.15 dan para penonton masih setia duduk di bangku masing-masing.

Mario Damar

]]>
https://gerejasantaclara.or.id/wayang-wahyu-refleksi-ekologis-ketika-keserakahan-membawa-kesusahan/feed/ 0