img 20241110 wa0053

Pemulasaraan Jenazah Wujud Iman, Persaudaraan dan Kemanusiaan.

Bekasi,SuaraClara – Gereja Katolik memiliki pandangan yang sangat bahwa jenazah umat beriman harus dihormati dan dimuliakan.

Mereka yang meninggal akan dirawat dengan baik melalui pemulasaraan jenazah. Kebutuhan akan pelayanan di bidang pemulasaraan jenazah menjadi hal yang penting, khususnya di Paroki Bekasi Utara, Gereja Santa Clara.

Melalui Seksi Santo Yusuf Gereja Santa Clara menggelar kegiatan pelatihan pemulasaraan jenazah yang diikuti oleh 100 orang perwakilan lingkungan di Aula Gedung Karya Pastoral, Gereja Santa Clara, Sabtu (9/11/2024).

1000500888

Pemateri acara adalah dr. Stephanus Rumancay, SpFM, MH ahli forensik Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bekasi mengatakan bahwa jenazah umat Kristiani harus dibersihkan secara layak dan sesuai norma hukum yang berlaku.

“Pelaksanaan memandikan jenazah bukan seperti memandikan orang yang hidup, sebetulnya cukup diseka dengan cairan clorin 0.5%” ucap dr. Stephanus Rumancay, SpFM, MH.

Ia menjelaskan bahwa cairan clorin bisa dibuat secara mandiri. Caranya dengan mencampurkan 1 liter Bayclin dan 9 liter air. Cairan clorin inilah yang dipakai untuk memandikan jenazah dan membersihkan area sekitar pemulasaraan.

1000503452

Selain itu ia menekankan pentingnya faktor keamanan dalam penyelenggaraan jenazah. Sebab, jenazah itu bisa menularkan penyakit.

“Sikap kehati-hatian sangat diutamakan. Dengan menggunakan cairan clorin tadi, dapat membunuh bakteri atau virus yang ada pada jenazah, selain itu petugas pulasara wajib penggunaan Alat Pelindung Diri (APD).

Antusias terlihat dari 100 peserta yang hadir dalam pelatihan ini. Hal itu terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan dari para peserta.

Salah satu pertanyaan menarik dari peserta adalah bagaimana cara memandikan jenazah yang sudah mengalami kekakuan (kaku mayat).

“Kaku mayat biasanya terjadi 3-6 jam setelah kematian. Apabila menemukan kasus seperti ini, orang yang memandikan bisa melakukan pelemasan pada sendi-sendi jenazah dengan lembut. Yaitu dengan cara menekuk sendi-sendi sebanyak 2 atau 3 kali. Tetapi, apabila kaku mayat terjadi lebih dari 6 jam, maka, sudah tidak bisa lagi dilakukan pelemasan, terlebih bila jenazah yang memiliki otot-otot besar,” ujar dokter Stephanus.

Kolaborasi Gereja yang diwakili oleh Seksi Santo Yusup ini disambut baik oleh peserta; prodiakon dan perwakilan umat setiap lingkungan. Dengan pelatihan Pemulasaraan Jenazah ini, Gereja berharap umat bisa mempraktikannya bila kemalangan itu menimpa kerabat, tetangga, saudara maupun saudari yang ada disekitarnya.

Jeffier Al Madinah
Sie Komsos

4.7 3 votes
Beri Nilai
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments