Misa Syukur Malam 1 Suro :  Sarana Merefleksikan Diri

Dalam rangka menyambut tahun baru Saka di malam 1 Suro, umat mengikuti Perayaan Ekaristi yang dipimpin secara konselebrasi oleh Romo Alphonsus Setyo Gunawan Pr dan Romo Kaprilius Sitepu OFM Capusin, Pada tanggal 15 Juni 2026, pukul 20:00 WIB. 

Misa yang berlangsung dengan khidmat ini menggunakan Bahasa Jawa dalam seluruh rangkaian liturginya, sehingga menghadirkan suasana yang akrab dan kental dengan budaya Jawa. Selain itu, pada perayaan misa syukur malam 1 suro ini umat sebagian besar menggunakan pakaian adat Jawa, serta musik gamelan yang mengiringi lagu-lagu liturgi berbahasa Jawa selama jalannya misa.

Malam 1 suro memiliki makna sebagai momen refleksi dan pembaruan diri. Melalui perayaan Ekaristi ini, umat diajak untuk mensyukuri penyertaan Tuhan sepanjang tahun yang telah dilalui serta memohon berkat dan tuntunan-Nya dalam memasuki tahun yang baru. Umat yang hadir bukan hanya dari suku Jawa saja, umat dari suku lain juga tampak hadir dalam Misa tersebut.

Umat terlihat antusias mengikuti perayaan sejak awal hingga akhir. Penggunaan Bahasa Jawa dalam doa, bacaan, dan nyanyian membantu umat menghayati perayaan sekaligus menjadi wujud penghargaan terhadap budaya Jawa yang hidup di tengah masyarakat.  Misa dengan inkulturasi Budaya Jawa ini tampak dari penggunaan Bahasa Jawa dalam ritus dan lagu-lagu liturgi, pakaian para petugas liturgi yang khas Jawa Tengah, blangkon yang dikenakan kedua pastor, hiasan altar dari daun janur, serta persembahan yang diarak dengan tarian Jawa. Persembahan berupa tumpeng, rangkaian buah, gunungan, dan 13 bibit tanaman yang mewakili 13 wilayah.

Dalam homilinya, Romo Gunawan yang kini bertugas di Gereja Santo Laurensius Paroki Alam Sutra,  mengajak umat untuk  menjadi manusia yang baru, dan meninggalkan sifat-sifat manusia yang lama. Kita sebagai manusia harus berani meninggalkan yang yang sudah terjadi sebelumnya, tidak perlu mengingat hal-hal yang sebelumnya di kehidupan sekarang. Seperti pesan yang ada pada Injil Matius 5:38-42, Yesus mengajarkan untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Jika seseorang berbuat jahat kepada kita, kita diajak untuk bersikap sabar, mengalah, dan tidak membalas dendam.

Salah satu momen yang menarik perhatian adalah prosesi persembahan. Dalam prosesi persembahan tersebut, terdapat Gunungan dan tanaman hidup yang dibawa, hal tersebut sebagai simbol rasa syukur atas berkat dan penyertaan Tuhan yang senantiasa melimpah dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, tanaman hidup yang dibawa sebagai simbol tema ekologis yang diterjemahkan oleh Ketan Jawi sebagai “Njaga Bumi Ngrumat Jagad”. Tanaman tersebut melambangkan komitmen umat untuk menjaga kelestarian alam sebagai bagian dari tanggung jawab bersama dalam merawat ciptaan Tuhan. Setelah selesai misa, gunungan dibagikan pada umat yang hadir dan tanaman tencananya akan ditanam di lingkungan gereja.

Perayaan Misa Malam 1 Suro berlangsung dengan lancar dan penuh sukacita. Melalui perayaan ini, umat diajak untuk mensyukuri anugerah Tuhan sekaligus melestarikan nilai-nilai budaya yang selaras dengan semangat iman Kristiani.

Julia

5 1 vote
Beri Nilai
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar