Perayaan Misa yang dilaksanakan malam itu tampak berbeda dari biasanya. Para pastor yang memimpin misa secara konselebrasi mengenakan beskap lengkap ala Yogyakarta dan ritus misa menggunakan Bahasa Jawa. Koor Ketan Jawi yang dipandu oleh dirigen Djoko Gembos melantunkan lagu-lagu liturgi berbahasa Jawa. Para penari yang mengantar perarakan pembukaan dan perarakan persembahan juga mengenakan busana tarian Jawa dan mempersembahkan Gerakan tarian khas Jawa. Umat yang hadir Sebagian besar juga mengenakan bekap dan kebaya serta berkain batik dan disambut hangat oleh para among tamu dan petugas tata laksanan yang juga mengenakan pakaian daerah Jawa.
Romo Kaprilius Sitepu OFM Capusin dalam sambutannya menyampaikan bahwa Paguyuban Ketan Jawi (Keluarga Katolik Tanah Jawi) merupakan salah satu komunitas budaya di Gereja Santa Clara yang kehadiran serta partisipasinya membawa warna dan kekayaan di dalam kehidupan beriman umat Paroki Bekasi Utara. Ke depan, misa dengan inkulturasi budaya di gereja ini akan semakin didukung baik bagi komunitas Jawa, Batak (IKKSU), Flores (Flobamorata) maupun Tionghoa (Petikas). Selain untuk terus merawat budaya bangsa juga agar iman umat semakin tumbuh dalam keberagaman yang ada.
Sedangkan Romo Agustinus Heri Wibowo Pr dari Gereja Santo Albertus Agung Paroki Harapan Indah yang malam itu menjadi selebran, dalam kotbahnya menyampaikan perlunya menjaga dan menjalin kerukunan dalam kehidupan di paguyuban, di gereja paroki, maupun dalam masyarakat. Mengingat di dalam paroki ini pun ada banyak komunitas budaya dan dalam Masyarakat pun kita hidup dalam keberagaman. “Jangan sampai manusia menjadi srigala bagi manusia lainnya,” tutur Romo Heri. Manusia hendaknya membawa damai dan sukacita bahi manusia lainnya.
Kali ini, Paguyuban ketan Jawi berulang tahun ke-4. Dan sebagai ungkapan Syukur pada kamis, 29 Oktober 2026 dilaksanakan Misa Syukur Berbahasa Jawa pada pukul 20.00. Sebelumnya, pada pukul 19.00 dilaksanakan Doa Rosario dalam Bahasa Jawa atau Sembahyang Tasbeh. Umat yang hadir sekitar 350 orang. Ada pula rombongan tamu yang hadir dari Paroki Harapan Indah yang berbusana daerah Jawa lengkap. Misa dipersembahkan oleh 5 pastor, yaitu Romo Agustinus Heri Wibowo Pr, Romo Kaprilius Sitepu OFM Capusin, Romo Supriyadi Pardosi OFM Capusin, Romo Firdaus Depari OFM Capusin dan Romo Andi Boni G Girsang OFM Capusin.
Untuk selanjutnya, Paguyuban Ketan Jawi akan menyelenggarakan Misa Berbahasa Jawa minimal dua kali setahun yaitu pada perayaan malam 1 Suro dan pada perayaan HUT Paguyuban. Selain itu, juga akan diadakan pertemuan Selasa Kliwon sebulan sekali yang akan diisi dengan Ibadat Rosario berbahasa Jawa, sarasehan, maupun renungan dan sharing Kitab Susci dalam Bahasa Jawa.










Hal ini dimaksudkan agar penggunaan Bahasa Jawa dan Upaya melestarikan budaya Jawa terus dilakukan oleh orang-orang Jawa Katolik di perantauan. Dan supaya di perantauan ini anggota paguyuban juga semakin tumbuh dalam iman, saling melayani dan menjalin persaudaraan sejati. Ketan Jawi juga memiliki kepedulian sosial terhadap anggotanya dengan mendoakan dan memberikan santunan bagi yang sakit atau meninggal. Seperti apa yang selalu ditekankan oleh Bapak Suwito Bernardi selaku ketua paguyuban, bahwa “Urip iku kudu Urup” atau hidup itu harus senantiasa menyala. Dan nyala itu menjadi cita-cita bersama dalam paguyuban ini.
Selain kegiatan internal, Ketan Jawi juga sudah dan akan terus terlibat dalam kegiatan paroki. Misalnya ambil bagian dalam tugas perarakan persembahan Misa HUT Paroki dan tugas koor Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam lengkap dengan iringan gamelannya. Paguyuban Ketan Jawi selama ini memiliki 4 divisi budaya yaitu seni tari yang diampu oleh Ibu Yustina Tri, seni merangkai bunga yang diampu Ibu Melania Tari, seni Paduan suara yang diampu Bapak Antonius Supardi dan Bapak Djoko Gembos serta seni gamelan yang diampu Bapak Teguh Mardiuntoro. Semuanya disiapkan untuk mendukung kegiatan Rohani paguyuban maupun Gereja Santa Clara.
Rini Giri
Santa Clara Bekasi Paroki Bekasi Utara