MISA HARI RAYA SANTA CLARA : Tetaplah Melekat Pada Pokok Anggur

Misa Hari Raya Santa Clara di Gereja Santa Clara Paroki Bekasi Utara merupakan puncak untuk menghormati seorang perempuan suci dalam Gereja Katolik, yang meninggalkan kemewahan untuk hidup dalam kesederhanaan dan kasih kristus. Kini namanya diabadikan sebagai nama pelindung gereja di Paroki Bekasi Utara.

Ribuan pelita pun tidak mampu menyamai cahaya dari satu kehidupan yang dipersembahkan sepenuhnya kepada Kristus. Itulah pesan yang bergema dalam misa Hari Raya Santa Clara yang dihadiri sekitar 290 umat pada Selasa (11/08/2026). Acara puncak dari novena sembilan hari berturut-turut (2-10 Agustus) ini juga menjadi perayaan istimewa dalam rangka HUT Paroki Bekasi Utara ke-28. Misa ini dipimpin secara konselebrasi oleh Rm. Kaprilus Sitepu, OFM Cap dan Rm. Ramses Nainggolan OFM Cap, di Gereja Santa Clara, Paroki Bekasi Utara.

Dalam homilinya, Rm. Kaprilius Sitepu, OFM Cap, mengajak seluruh umat untuk merenungkan makna mendalam dari teladan Santa Clara. “Dalam hal ini, sejarah-sejarah kita bisa saja menjadi budak kesibukan mengejar kesuksesan dunia. Tetapi semuanya itu bisa dihilangkan ketika kita bekerja untuk Yesus, ketika kita tinggal bersama-Nya,” ujar romo yang mememberikan homili dalam misa tersebut.

Santa Clara, seorang tokoh wanita Katolik dari abad pertengahan, menjadi inspirasi bagi umat dalam menghadapi berbagai tantangan hidup modern. Meskipun memiliki kesempatan untuk menikmati kehidupan yang mewah, nyaman dan berkecukupan, ia memilih untuk meninggalkan segalanya ketika menemukan Kristus sebagai pusat hidupnya.

“Apa yang terus kita pandang akan menentukan hidup kita,” lanjut Romo Kaprilius. Beliau menjelaskan bahwa jika terus memandang kesalahan orang lain, kita akan menjadi pintar mengkritik. Namun jika pandangan kita selalu tertuju pada Kristus, perlahan-lahan hati kita akan dibentuk menjadi seperti hati Kristus yang sederhana, murah hati, dan setia.

“Tetaplah berada dalam Aku. Hanya dengan tetap terhubung pada Kristus, kita dapat menghasilkan buah-buah kehidupan yang berlimpah.” 

Romo juga menyentuh tema pemangkasan yang seringkali dihadapi umat dalam perjalanan rohani mereka. “Ketika Tuhan memangkas kita melalui kegagalan atau konflik, itu bukti cinta-Nya. Ia ingin kita berbuah lebih banyak lagi,” kata beliau dengan hangat.

Metafora pohon anggur yang diambil dari Yohanes 15:4-10 menjadi pesan utama dalam homili tersebut. Romo menekankan bahwa kita adalah ranting-ranting yang harus tetap berada dalam pokok anggur, yaitu Kristus. Sebagai ranting, kita tidak akan pernah bisa menjadi pokok anggur, namun justru inilah keindahan dari ketergantungan kita kepada sumber kehidupan sejati.

“Meskipun menghadapi kesulitan, masalah, tantangan, keberhasilan, pujian, dan kesuksesan, tetaplah berada dalam Kristus agar tidak terpuruk jauh atau menjadi sombong,” pesannya di akhir homily yang bergema dalam gereja.

Refleksi mendalam juga disampaikan kepada umat untuk merenungkan peran mereka sebagai anggota gereja, khususnya dalam konteks HUT Paroki ke-28. “Apakah program karya paroki sudah benar-benar menyentuh dan melayani umat? Apakah benar-benar bermanfaat bagi semua?” Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi bahan renungan bagi setiap hadirin.

Suasana kebersamaan yang hangat tercermin dari antusiasme umat dalam menyerbu berbagai hidangan snack yang disediakan paroki setelah misa berakhir. Rebusan umbi-umbian yang sederhana namun lezat langsung habis, menggambarkan kesederhanaan dan berbagi yang menjadi nilai inti komunitas paroki.

Gereja universal memperingati Santa Clara dari Asisi dengan tingkatan perayaan Peringatan Wajib. Namun seluruh persaudaraan Fransiskan di seluruh dunia termasuk Gereja Santa Clara yang menggunakan namanya sebagai nama pelindung dan menghidupi spiritualismenya, boleh merayakan dengan tingkatan hari raya.

Perayaan Hari Raya Santa Clara tahun ini meninggalkan kesan mendalam bagi setiap umat, mengingatkan kita semua bahwa kehidupan sejati bukan terletak pada apa yang kita miliki, melainkan pada derajat pemberian diri kita kepada Kristus dan sesama.

Liputan : Nerius Rio Prawastyo

Photografer : Denic

0 0 votes
Beri Nilai
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar