HUT OFS : Memperbaiki Gereja dari Dalam

“Pergilah, perbaikilah gereja-Ku yang hampir roboh ini,” merupakan seruan yang diterima Santo Fransiskus dari Asisi di Kapel San Damiano  dan menjadi pesan yang kembali digaungkan dalam perayaan misa ulang tahun Ordo Fransiskan Sekular (OFS) di Gedung Karya Pastoral Gereja Santa Clara Paroki Bekasi Utara pada Sabtu, 30 Mei 2026.

Dalam perayaan misa yang dipimpin oleh Romo Kaprilius Sitepu OFM Capusin, umat tidak hanya diajak mengenang kiprah Santo Fransiskus, tetapi juga diajak merefleksikan panggilan untuk terus memperbarui Gereja dari dalam, yaitu di kehidupan sehari-hari.

“Awalnya, Fransiskus memahami pesan Tuhan secara harfiah. Ia benar-benar mengangkat batu dan memperbaiki gereja yang rusak bersama beberapa saudaranya. Namun kemudian ia menyadari bahwa yang dimaksud Tuhan bukan sekadar bangunan fisik, melainkan kehidupan umat beriman yang perlu diperbarui,” tutur Romo Kaprilius dalam sambutannya.

OFS sendiri merupakan persekutuan kaum awam yang meneladani semangat dan ajaran Santo Fransiskus dari Asisi dalam menghidupi Injil. Dikenal pula sebagai ordo ketiga Fransiskan, anggotanya merupakan pria maupun wanita yang sudah dibaptis secara Katolik, serta hidup di tengah masyarakat, bukan di biara.

Untuk di wilayah Bekasi sendiri, OFS Margareta Cortona Bekasi yang lahir pada 19 Mei 2014 telah berkembang menjadi komunitas yang cukup besar dengan anggota yang berasal dari berbagai paroki di sekitar Bekasi. Antara lain dari Gereja Santa Clara Paroki Bekasi Utara, Gereja Arnoldus Janssen Paroki Bekasi, Gereja Bartolomeus Paroki Taman Galaxi, Gereja Santo Gabriel Paroki Pulo Gebang, Gereja Albertus Agung Paroki Harapan Indah, hingga Gereja Kristus Sang Penabur Paroki Subang dan Gereja Santo Matias Rasul Paroki Cinere.

Saat ini tercatat ada 71 anggota, dengan 46 anggota yang telah berprofesi, sedangkan sisanya masih berada dalam masa pembinaan. OFS Indonesia juga kini telah berkembang secara nasional. Setelah disahkan Dewan OFS Internasional di Roma, OFS Indonesia memasuki usia ke-21 dengan total anggota mencapai 2.330 orang.

Dari jumlah tersebut, 1.451 anggota telah mengikrarkan profesi kekal dan 879 lainnya masih menjalani masa pembinaan. OFS Indonesia juga telah hadir di 14 Persaudaraan Regional dari Nias hingga Papua dengan total 81 Persaudaraan Lokal.

Memperbaiki Gereja dari Dalam

Dalam homilinya, Romo Kaprilius mengingatkan bahwa Gereja di setiap zaman selalu menghadapi tantangan. Pada masa Santo Fransiskus, Gereja juga mengalami banyak persoalan dan krisis. Namun Tuhan tidak meninggalkan Gereja-Nya. Tuhan justru memanggil seorang muda dari Assisi untuk menghadirkan pembaharuan.

Pesan tersebut dinilai tetap relevan hingga sekarang. Di tengah keluarga yang tidak harmonis, anak-anak yang semakin jauh dari Tuhan, budaya ketidakjujuran, hingga umat yang lebih suka mengeluh daripada terlibat, Tuhan tetap memanggil umat-Nya untuk menjadi bagian dari pembaharuan itu.

Menurut Romo Kaprilius, memperbaiki Gereja tidak selalu berarti melakukan sesuatu yang besar. Gereja justru dibangun melalui tindakan sederhana yang dilakukan dengan kasih dan kesetiaan. “Tuhan sering kali tidak menjawab persoalan dengan mengirim orang lain, tetapi justru dengan menggerakkan hati kita sendiri untuk menjadi alat pembaharuan. Setiap orang dipanggil untuk memperbaiki Gereja melalui kehidupan sehari-hari, dimulai dari keluarga, lingkungan, dan komunitasnya sendiri,” kata Romo Kaprilius.

Untuk itu, ia menekankan perayaan tentang semangat Santo Fransiskus ini tidak boleh berhenti pada pesta atau acara tahunan saja. Romo Kaprilius mengatakan bahwa semangat Santo Fransiskus harus benar-benar meresap dan mengubah cara hidup para pengikutnya.

Dalam perayaan tersebut, Wakil Minister OFS Margareta Cortona Bekasi Thomas Kiefam menekankan, OFS bukan hanya sebuah organisasi rohani biasa, melainkan sebuah panggilan hidup. Anggota OFS dipanggil untuk menghidupi spiritualitas Fransiskan di tengah kehidupan sehari-hari, sama seperti para imam dan suster yang hidup dengan aturan hidup tertentu di dalam biara.

Namun, tantangan anggota OFS justru lebih besar karena mereka hidup di tengah dunia. Mereka menjalani kehidupan sebagai awam, mulai dari bekerja, membangun keluarga, berinteraksi di lingkungan sosial, bahkan menghadapi dinamika sederhana sehari-hari.

Untuk itu, menurutnya, komitmen pribadi jadi sangat penting. “Tantangan terbesar OFS adalah bagaimana menghadirkan nilai-nilai Fransiskan di tengah realitas dunia. Komitmen pribadi menjadi sangat penting agar panggilan itu tetap berjalan dan bertumbuh, terutama setelah seseorang mengucapkan kaul atau profesi dalam OFS,” katanya.

Datang dari Jauh demi Persaudaraan

Semangat hidup Fransiskan itu juga tampak dalam pengalaman salah seorang anggota OFS Margareta Cortona Bekasi yang berasal dari Subang, yakni Vincent Setiawan. Ia mengatakan, meski tinggal di Subang, ia selalu menyempatkan diri untuk menghadiri pertemuan rutin yang diadakan pada minggu ketiga setiap bulan.

Keputusannya bergabung dengan OFS tidak lepas dari ketertarikannya pada sosok Santo Fransiskus dari Asisi. Berawal dari situ, ia lantas memantapkan diri bergabung dengan OFS Margareta Cortona Bekasi, setelah sempat berencana bergabung dengan OFS Bandung, tapi diurungkan karena komunitas OFS di sana ternyata sudah lama tidak aktif. Sejak bergabung mulai dari pertengahan 2025, Vincent pun mengaku merasakan pengalaman yang sangat positif. Ia menyebut persaudaraan OFS sebagai sesuatu yang baru dan berbeda dalam hidupnya.

“Persaudaraan ini sangat menerima saya. Saya orang yang tidak gampang akrab, tapi saudara-saudara di sini menerima dengan senang hati,” katanya. Penerimaan itu yang kemudian jadi pengalaman yang sangat berarti baginya.

Mario Damar

Foto-foto : Onny

0 0 votes
Beri Nilai
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar