Ketika Pancasila Sampai ke Telinga Paus Fransiskus

Ada banyak faktor yang mendasari Paus Fransiskus, pemimpin tertinggi umat Katolik, mengunjungi suatu negara atau wilayah tertentu. Ketika mengunjungi suatu negara, Paus tidak hanya membawa misi keimanan, tetapi juga kemanusiaan dan persaudaraan yang bersifat universal serta melintasi sekat-sekat suku, ras, ataupun agama.

Pada 3-6 September nanti, Paus Fransiskus direncanakan akan mengunjungi Indonesia dan beberapa negara di kawasan Asia Tenggara lainnya, seperti Singapura, Timor Leste, dan Papua Niugini. Dengan usianya yang telah menginjak 87 tahun, Paus Fransiskus rela menempuh perjalanan panjang dari Vatikan untuk sampai ke negara-negara tersebut.

Perhatian yang besar dari Paus Fransiskus terhadap umat manusia di berbagai belahan dunia ditegaskan Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Antonius Subianto Bunjamin. Menurut Antonius, perhatian dari Paus bahkan ditujukan untuk masyarakat yang tinggal di daerah periferi atau pinggiran.

Paus Fransiskus berdiri di balkon Basilika Santo Petrus untuk menyampaikan pemberkatan Natal Urbi et Orbi di Lapangan Santo Petrus di Vatikan, 25 Desember 2023.

”Paus bukan hanya pemimpin agama Katolik seluruh dunia, melainkan juga tampil sebagai pemimpin kemanusiaan. Paus tidak pernah berbicara tentang Katolik pada negara atau tokoh, tetapi berbicara tentang kemanusiaan dan perdamaian serta persaudaraan,” ujarnya saat ditemui di Kantor KWI, Jakarta, Jumat (2/8/2024).

Dari kisah yang disampaikan Antonius, Paus Fransiskus sangat menantikan kunjungan ke Indonesia. Bahkan, kunjungan ini sudah sempat diagendakan pada 2020. Namun, saat itu kunjungan terpaksa dibatalkan akibat pandemi Covid-19.

Indonesia juga sudah bukan nama negara yang asing bagi Paus Fransiskus. Ketika bertemu langsung dengan Paus Fransiskus, Antonius menyebut bahwa Paus selalu mengapresiasi kerukunan dan persaudaraan di Indonesia serta Pancasila yang menjadi dasar negara.

”Saat menemani Bapak Kardinal Suharyo dilantik di Vatikan, kami kaget sekretaris negara Vatikan langsung berkata Indonesia dan Pancasila luar biasa. Saya menduga, kata ’Pancasila’ juga sampai ke Paus. Jadi, Pancasila ini adalah sesuatu yang sangat diapresiasi. Sebab, dengan Pancasila, Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku dan agama bisa hidup relatif rukun dibandingkan dengan negara-negara lain,” katanya.

Antonius menduga, nilai-nilai Pancasila dan kerukunan di Indonesia sampai ke telinga Paus dari laporan sekretaris negara di Vatikan. Dengan perhatian Paus ini, ia pun berusaha mengajak seluruh gereja untuk mewujudkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Sebagai dasar negara dan ideologi bangsa Indonesia, Pancasila memiliki peran fundamental dalam membimbing arah dan tujuan bangsa. Nilai-nilai Pancasila, seperti ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial, menjadi fondasi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara yang damai, rukun, adil, dan makmur.

”Orang yang mengaku semakin Katolik, pasti dia semakin mengamalkan Pancasila karena nilai-nilainya sejalan. Apabila dilihat sila satu sampai lima juga semuanya persis keprihatinan Paus. Negara kita akan semakin baik jika pemerintah dan seluruh masyarakat benar-benar mengamalkan Pancasila,” ungkapnya.

Sebelumnya, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas berharap, melalui kunjungan ini, Paus Fransiskus dapat menyaksikan secara langsung keragaman dan persaudaraan antarumat beragama yang tumbuh di tengah masyarakat Indonesia. Kunjungan Paus Fransiskus ini pun dapat menjadi simbol persahabatan dan dialog antarumat beragama di Indonesia.

”Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia dianggap sebagai momentum penting untuk memperkuat hubungan bilateral Indonesia-Vatikan dan menjadikan Indonesia sebagai barometer kehidupan beragama yang rukun dan damai,” ucapnya.

Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo diwawancarai wartawan Kompas di Wisma Keuskupan Agung Jakarta di Kompleks Katedral, Jakarta, Jumat (2/8/2024).

Makna untuk gereja

Ketertarikan Paus Fransiskus terhadap nilai-nilai Pancasila dan praktik toleransi di Indonesia juga disampaikan Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo. Ia pun menilai, kunjungan Paus Fransiskus merupakan sebuah bentuk apresiasi Paus kepada Gereja Katolik di Indonesia.

”Di Indonesia, jumlah umat Katolik hampir mencapai 9 juta umat. Gereja Katolik Indonesia juga dinilai istimewa karena punya panggilan khusus. Di mata Katolik secara universal, Indonesia termasuk hebat karena banyak misionaris, imam dari Indonesia yang diutus ke sejumlah daerah misi di seluruh dunia,” tutur Suharyo saat ditemui di Kompleks Katedral Jakarta, Jumat (2/8/2024).

Suharyo mencontohkan, Serikat Sabda Allah atau yang di Indonesia biasa dikenal dengan SVD (Societas Verbi Divini) tercatat telah mengirimkan 600 imam dan biarawan dari Indonesia untuk bermisi di sejumlah negara. Selain itu, sejumlah imam dan biarawati asal Indonesia saat ini juga telah memimpin tarekat atau ordo di tingkat Internasional.

Salah satunya adalah Rm Agustinus Purnama Sastrawijaya yang dipercaya menjadi superior jenderal Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (Congregatio Missionariorum a Sacra Familia-MSF). Ada juga Suster Sofia Gusnia Saragih yang dipercaya menjadi Superior kongregasi suster Carolus Boromeus (CB).

Kemajuan Gereja Katolik Indonesia, kata Suharyo, juga tak dapat dilepaskan dari peran umat awam. ”Pelayanan-pelayanan gereja itu dilaksanakan dan dijalankan dengan dukungan kaum awam. Dengan beragam profesi, mereka turut membangun Gereja Katolik Indonesia,” ungkapnya.

Suharyo menambahkan, berkat seluruh umat, biarawan-biarawati dan seluruh imam yang ada di Indonesia, Gereja Katolik Indonesia menjadi institusi yang relevan dan signifikan. ”Relevan untuk umat dan signifikan untuk Indonesia,” katanya.

0 0 votes
Beri Nilai
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments