Kerasulan Keluarga :  Tuhan Hadir Dalam Perkawinan

Banggalah Dengan Pernikahan Anda

“Ingatlah tanggal pernikahan anda, ikutilah Misa Hari Ulangtahun Perkawinan, jangan malu. Baharuilah janji perkawinan anda. Banggalah dengan pernikahan anda.” Begitulah pesan Romo Fransiskus Asisi Budiyono MSF, Ketua Komisi Kerasulan Keluarga KAJ, yang membuat para hadirin sedikit terperangah karena merasa disentil.

Siang itu, pastor yang akrab disapa dengan Romo Budi menjadi narasumber ‘Rekoleksi Spiritualitas dan Sakramentalitas Perkawinan Katolik’ yang diselenggarakan Seksi Kerasulan Keluarga (SKK) Gereja Santa Clara Paroki Bekasi Utara bagi para pengurus Seksi Kerasulan Keluarga Lingkungan (SKKL). Ada sekitar 120 utusan lingkungan yang hadir, dan merupakan pasangan suami istri. Mereka diutus oleh lingkungan untuk mengikuti seminar tersebut, agar nantinya bisa membagikan ilmunya kepada umat di lingkungan dan punya bekal untuk membantu keluarga-keluarga di lingkungan yang membutuhkan perhatian dan pendampingan.

Dalam seminar yang dilaksanakan di Aula Fransiskus Asisi GKP Gereja Santa Clara pada Minggu, 10 Mei 2026 pukul 11.00 sampai 14.30 ini, lebih lanjut Romo Budi menyampaikan bahwa janji nikah harus dihidupi karena Allah sendiri juga hadir dalam perkawinan. “Mempelai adalah pelayan sakramen perkawinan itu sendiri, imam hanya saksi resmi. Tuhan sungguh hadir dalam diri kedua mempelai, karena Sakramen Perkawinan merupakan misteri kehadiran Allah yang menyelamatkan,” tuturnya.

Perkawinan Monogami dan Tak Terceraikan

Sebelum mempelai mengucapkan janji nikah, imam akan lebih dulu menanyakan ketulusan dan keikhlasan kedua mempelai, kesediaan mempelai untuk saling menghormati dan mengasihi seumur hidup, kesediaan menerima dan mendidik anak-anak secara Katolik sesuai hukum Kristus dan Gereja. Rumusan janji nikah berisi janji kedua mempelai di hadapan Allah, imam, orang tua dan saksi bhwa secara pribadi memilih pasangannya dengan niat suci untuk dijadikan suami atau istri, berjanji setia dalam segala keadaan,  dan mau mencintai dan menghormati seumur hidup.

Sifat pernikahan Katolik adalah sekali seumur hidup dan tidak dapat diceraikan manusia, karena ada relasi erat antara suami istri dengan Allah. Seperti hubungan cinta kasih Kristus kepada Gereja-Nya, Dimana Kristus tidak pernah menceraikan Gereja-Nya. Seperti tertulis dalam Matius 19:5-6, bahwa  laki-laki akan meninggalkan orang tuanya untuk bersatu dengan istrinya, menjadi satu daging. Konsekuensi rohaninya adalah mereka bukan lagi dua, melainkan satu, sehingga apa yang disatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia.

Tuhan Hadir Dalam Perkawianan

“Ketika pengantin berjanji, Tuhan juga berjanji. Ia akan hadir dalam janji setia, yang dipersatukan Allah tidak dapat dipisahkan, dan Allah memberkati suami-istri dengan keturunan. Ada penyertaan dan campur tangan Tuhan dalam perkawinan. Maka ciptakan kebiasaan berdoa bersama dalam keluarga. Karena Tuhan selalu hadir dalam perkawinan dan keluarga,” tutur Romo Budi lebih lanjut.

Perkawinan dalam gereja Katolik merupakan sakramen, Dimana Allah hadir dalam cinta kasih suami istri dan memberikan rahmat-rahmat-Nya. Antara lain Rahmat kesatuan, penyembuhan, pengasuhan, berbagi,  dan mencintai terus-menerus.

Spiritualitas dan Sakramentalitas perkawinan tercermin dalam kesatuan suami istri, ‘saling’ dalam segala sesuatu, berpusat pada cinta kasih sebagai buah Roh Kudus, dan ada pemberian diri. Cinta suami pada istrinya dan cinta istri pada suaminya merupakan wujud cinta suami istri pada Tuhan.

Hal itu didukung oleh Romo Ramses Nainggolan OFM Capusin dalam sambutannya mewakii paroki, dengan mengutip bagian penutup Injil pada Minggu Paskah VI ini. Dari Injil Yohanes 14 :15-21, “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku, dan Aku pun akan mengasihi dia.” Suami-istri yang memegang dan melaksanakan perintah Allah akan dikasihi Allah.

Program SKK

Dalam kesempatan itu SKK diwakili Daru Mustiko yang juga menjadi pembawa acara, menyampaikan beberapa program dari SKK Gereja santa Clara. Antara lain, Discovery untuk pasangan yang sudah akan serius menikah dan sebagai persiapan menuju Program Membangun Rumah Tangga (MRT). Program berikutnya adalah MRT yang wajib diikuti calon pengantin maksimal 6 bulan sebelum menikah. Ada pula Program 10 Tahun Pertama bagi suami-istri muda agar mampu membangun keluarganya dengan lebih kokoh.

Program lainnya adalah Rekap, diperuntukkan bagi Remaja Katolik agar memiliki bekal untuk berpacaran secara sehat dan punya mindset untuk memilih pasangan seiman. Program yang tak kalah menarik adalah KPK (Kursus Pastoran Keluarga)  yang programnya antara lain adalah mempelajari hukum kanonik pernikahan dan mengajak umat untuk merayakan Misa Hari Ulangtahun Perkawinan. Program yang juga sangat penting adalah Moka (Menjadi Orang Tua Katolik) agar para orang tua punya wawasan dalam mendidik anak-anaknya secara kristiani.

Para peserta tampak antusias mengikuti rekoleksi ini, terbukti setelah sesi makan siang mereka kembali duduk di aula sampai acara selesai. Banyak di antara mereka mengajukan pertanyaan seputar permasalahan dalam perkawinan Katolik kepada Romo Budi.

Rini Giri

Foto-foto : Lego Sriyono

5 1 vote
Beri Nilai
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments