Misa Kamis Putih di Gereja Santa Clara berjalan lancar dan khidmat pada Kamis, 2 April 2026. Sejak pukul 15.00 WIB, umat sudah berdatangan dan parkir teratur di parkiran Gereja maupun parkiran SMK Panjatek. Misa pertama dimulai pada pukul 16.00, sedangkan misa kedua berlangsung mulai 20.30 dan diakhir dengan Tuguran pukul 23.00.
Perayaan Kamis Putih pertama dipersembahkan secara konselebran oleh Pastor Kaprilius Sitepu OFMCap dan Pastor Jona Joakim Pinem OFMCap, dihadiri oleh 3.057 umat. Umat memenuhi ruangan gereja, GKP, Plaza Maria dan sebagian Basement.

Sementara misa kedua dipersembahkan secara konselebran oleh Pastor Ramses Nainggolan OFMCap, Pastor Jona Joakim Pinem OFMCap dan Romo Yustinus Saragih OFMCap dengan 2.879 umat yang hadir. Kali ini hampir tidak ada umat yang duduk di basement. Jumlah umat diperoleh dari Tim K3 yang menghitung kehadiran umat di pintu screening.
Perarakan masuk para petugas liturgi dari pintu utama gereja menandai dimulainya misa yang mengandung tiga peristiwa penting ini, yaitu penetapan Sakramen Ekaristi, penetapan Sakramen Imamat dan Perintah Baru yang diberikan oleh Yesus untuk saling mengasihi.
Penerimaan Minyak Kudus
Misa Kamis Putih diawali dengan penerimaan minyak kudus yang telah diberkati Bapak Uskup Ignatius Kardinal Suharyo pada Misa Krisma di Gereja Katedral Jakarta pada Rabu, 1 April 2026 pukul 11.30.

Minyak-minyak itu adalah Minyak Katekumen (Oleum catechumenorum atau Oleum sanctorum), Minyak Orang Sakit (Oleum Infirmorum), dan Minyak Krisma (Sacrum Chrisma). Minyak-minyak itu dibawa ke altar oleh prodiakon dalam perarakan pembukaan dan diperlihatkan oleh imam kepada umat, disertai katekese singkat mengenai manfaat minyak-minyak tersebut.
Ketiga minyak tersebut yang akan dipergunakan sepanjang tahun dalam Sakramen Baptis, pelantikan katekumen, Sakramen Krisma, dan Sakramen Pengurapan Orang Sakit.
Homili & Upacara Pembasuhan Kaki
Pastor Jona dalam homilinya, bercerita bahwa sebagai seorang Pastor, beliau dipanggil bukan untuk menjadi penguasa, melainkan menjadi pelayan yang siap membasuh kaki umat.
Selayaknya seperti Yesus yang melepaskan ego, jabatan sebagai ‘Guru’ dan membasuh kaki para murid-Nya. Kita pun diundang turut serta meneladani sikap Yesus.
Dalam keseharian kita pasti ada saat sulit mengampuni, dan masih mengenakan jubah ego kita. Untuk itu, kita diajak untuk melepaskan kesombongan agar senantiasa memiliki relasi yang baik dimanapun kita berada.
Tindakan pembasuhan kaki disebut sebagai deeskalasi yaitu tindakan yang mematikan logika kekuasaan. Keadaan seseorang yang memiliki jabatan tinggi namun merendahkan dirinya.
Pastor Jona berpesan agar kita juga senantiasa bertransformasi dari orang yang ingin berkuasa atas orang lain, menjadi penuh kasih dan melayani sesama.
Setelah homili, dilakukan pula upacara pembasuhan kaki untuk mengenang pembasuhan kaki para murid oleh Yesus. Dan di situlah Yesus menetapkan hukum untuk saling mengasihi.

Dalam upacara ini, 12 perwakilan umat yang berasal dari 12 wilayah di Gereja Santa Clara berperan menjadi para rasul yang dicuci kakinya. Di Gereja Santa Clara ada 13 wilayah, namun Wilayah Laurensius da Brindisi menjadi Panitia Pekan Suci sehingga tidak ambil bagian.
Perarakan Sakramen Maha Kudus & Tuguran
Perayaan Ekaristi diakhiri dengan Perarakan Sakramen Maha Kudus dari Altar Gereja menuju ke Ruang Adorasi di GKP. Perarakan diiringi lagu “Mari Kita Memadahkan,” yang merupakan kidung pujian dan penghormatan kepada Sakramen Maha Kudus. Perarakan berlangsung dengan khusyuk dari awal hingga akhir. Umat turut menyanyikan lagu dan berlutut ketika perarakan berhenti dan dilakukan penghormatan.

Tuguran dilakukan di Ruang Adorasi GKP Gereja St Clara dipimpin oleh Frater Bagas bersama Kelompok Kategorial PDPKK. Umat “berjaga” bersama Yesus , sambil berdoa di hadapan Sakramen Maha Kudus hingga pukul 23:00.
Evita dan Damar-KOMSOS
Santa Clara Bekasi Paroki Bekasi Utara