Ke Mana Saja Anggota Lingkungan? Kok Sepi?

Bekasi,SuaraClara – Ketika pertanyaan “Mengapa orang yang aktif di lingkungan hanya itu-itu saja” diajukan, jawaban yang muncul sering berupa pertanyaan balik, yang acap kali malah ”Menghakimi”.
Pertanyaan itu kalau dirumuskan bisa berbunyi: Sejauh mana perhatian pengurus lingkungan kepada anggota lingkungan yang lain? Sejauh mana mereka diaktifkan? Sejauh mana mereka dilibatkan atau dikasih peran? Sejauh mana mereka terlayani? Sejauh mana mereka tersapa? Sejauh mana ini dan sejauh mana itu?

Jawaban umat atas pertanyaan tersebut: Saya selalu pulang malam dari tempat kerja. Kami tidak sempat. Pas mau berangkat, hujan turun. Anak sakit. Tidak enak badan dan berbagai alasan lain, dan semuanya masuk akal serta bisa diterima.

Tidak bisa dibantah misalnya, bahwa untuk para karyawan atau tenaga kerja yang bekerja di Jakarta, mereka akan pulang malam. Belum lagi kalau jalanan macet, mereka pasti lambat sampai di rumah dengan kondisi tubuh dan emosi yang letih. Sekarang, mari kita secara jujur berkaca sambil melihat pengalaman teman lingkungan.

Kebanyakan ketua atau pengurus lingkungan dan beberapa umat yang aktif (walau tidak selalu hadir juga) adalah karyawan seperti kebanyakan umat dan bekerja di Jakarta dengan pengalaman serupa di jalanan.
Mereka juga adalah orang-orang biasa yang juga pasti letih, pernah mengalami tidak enak badan, anak sakit dan sebagainya. Namun, masih sering datang ke pertemuan atau doa lingkungan. Sekali lagi, mari kita jujur. Ada apa dengan yang lain? Pertanyaan yang sama tertuju pada saya. Yang ngoceh melalui tulisan ini

Atau, jangan-jangan banyak dari antara kita sudah merasa tidak penting lagi hidup berlingkungan? Atau tidak lagi merasakan makna berdoa bersama teman-teman lingkungan? Atau merasa tidak cocok lagi terlibat dalam koor lingkungan? Atau memang sudah sampai pada tingkat ”Cuek kelas dewa” dengan aktifitas di lingkungan, dan sudah merasa cukup dengan ke gereja untuk Misa?

Pertanyaan menggugat atas semua alasan tersebut: Masa sih kita selalu pulang malam dari tempat kerja, selalu tidak sempat, selalu hujan, anak selalu sakit, selalu tidak enak badan dan selalu-selalu yang lain? Mari menjawab dengan jujur?

Sekali lagi, teman-teman lingkungan yang hadir (walau tidak selalu) itu, sesekali juga mengalami hal yang kita alami. Tapi mereka memiliki keterpanggilan untuk bersekutu, membangun iman secara bersama warga lingkungan.

Ingatlah, selain kita bertanggung jawab atas iman kita secara pribadi, setiap kita juga memiliki tanggung jawab terhadap perkembangan dan keterpeliharaan iman teman kita. Dan lingkungan adalah wadah kita saling menumbuhkan, menyirami dan menyiangi iman kita dan sesama. Sebutir benih padi tidak tumbuh pada dirinya. Dia membutuhkan wadah tanah, air, udara, sinar matahari untuk tumbuh dan sehat sampai dipanen tuannya.

Paralel dengan itu, kehadiran kita dalam kegiatan-kegiatan lingkungan adalah tanah, air, udara, sinar bagi iman kita, pun iman teman lingkungan kita. Dan kalau mereka terlibat dalam koor lingkungan, bukan karena suara mereka sudah sangat bagus, tapi karena mereka menyadari bahwa melalui suara mereka yang pas-pasan, mereka bisa memuliakan Tuhan. Masa mungkin, ada anggota lingkungan yang memiliki suara ”lumayan bagus” tapi enggan bergabung.

Nah! Kita baru saja memilih Ketua Lingkungan secara online. Bagi saya, inilah cara gereja menyapa dan mengajak umatnya untuk terlibat dalam menentukan kepemimpinan di lingkungan. Inilah juga cara mengikis pendapat ”Tidak dilibatkan”.

Lebih lanjut, umat diajak bertanggungjawab atas pilihannya. Memilih itu mengandung tanggungjawab. Apa tanggungjawab kita? Ya, mendukung kepemimpinan yang ada melalui keterlibatan di lingkungan. Kita tidak dituntut untuk selalu hadir, tapi masa sih sama sekali tidak ada waktu yang tersisah dari letihnya jiwa dan raga usai melakukan tugas rutin?
Mari kita jujur. Jangan sampai, hanya saat memerlukan surat keterangan dari Ketua Lingkungan untuk menikahkan anak atau urusan lain, bahkan saat mau mati (mati kok, pakai mau… hahaha) baru kenal dan datang ke ketua lingkungan.

Beruntunglah spiritualitas pelayanan di KAJ dan Gereja Katolik pada umumnya adalah ”Spiritualitas Gembala yang Baik dan Murah Hati” sehingga Ketua Lingkungan tetap melayani. Jika tidak, bisa jadi Ketua Lingkungan sambil ngaso setelah pulang kerja dan menembus kemacetan, berkata dengan nada bertanya: Siapa Anda? Kok saya tidak kenal? Anda ke mana saja selama ini?
Walau sangat tidak mungkin diajui pertanyaan semacam itu, mari kita berpikir dan mencoba merasa-rasa juga.

Penulis : Oleh Emanuel Dapa Loka, Umat Lingkungan Padre Pio 2

4.6 9 votes
Beri Nilai
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments